Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #8

Bagian 8: Luka

Tubuhku mengambang di antara ruang kosong yang tiba-tiba mengelilingiku. Hitam. Gelap. Aku mencoba menggerakkan badan, bersatu dengan udara yang bergerak tak tentu. Lupi hilang secara tiba-tiba. Padahal aku sangat yakin sudah memeluknya cukup erat. Aku takut dia terjatuh lebih dulu ke dalam air, sedangkan aku tidak tahu di mana. 

Aku tak menapak tanah, tak juga menyentuh sesuatu. Hanya udara yang kurasakan saat ini. Dinding-dinding itu menghilang. Aku hanya melihat kegelapan yang mengelilingi. Sampai akhirnya sebuah cahaya terlihat samar-samar. Letaknya sekitar sepuluh meter di bawahku. Cahaya itu membentuk sebuah mobil sedan berwarna hitam. Warnanya benar-benar menyatu dengan sekitar. Jika sekelilingnya tidak disertai kilauan, aku mungkin tak bisa melihatnya. 

Mobil tersebut berjalan pelan, lebih tepatnya mengambang. Tidak ada jalan di di depannya. Hanya ada kekosongan. Aku hendak mendekat untuk melihat lebih jelas, tapi tiba-tiba kepalaku terbentur sesuatu. Sakit sekali. Seperti ada dinding yang menghalangi. Lantas kusentuh pelan-pelan. Kurasakan kehangatan berdiri kokoh tepat di depan wajahku. Sayangnya dinding-dinding hangat transparan itu ada di berbagai sisi. Aku persis seperti berada di dalam sebuah kotak, hanya bisa melihat mobil itu dari atas. 

Mobil tersebut terus bergerak maju, mengambang di udara, lantas berputar di sekitarku seperti memang itulah jalannya. Lalu terdengar sebuah percakapan yang amat nyaring di telinga.

“Kau mau apa untuk ulang tahunmu nanti?” Suara seorang perempuan paruh baya terdengar lembut dari dalam mobil.

“Bukankah ulang tahunku masih sangat lama? Kenapa kalian tiba-tiba menanyakannya?” Seorang pria menjawabnya. Dari suaranya, aku rasa dia sepantaran dengan Biru atau Mawar. Aku tak tahu berapa usia mereka, kemungkinan sudah dua puluh tahun. Tinggi kami saja berbeda jauh. Jika kami berdiri sejajar, tinggiku hanya menyentuh siku mereka. Baik mereka ataupun orang ini, memiliki suara yang terdengar sedikit berat tapi bukan tipe suara orang dewasa.

“Kau ini banyak maunya. Jadi kami mau bersiap-siap jika kau sudah menyerahkan daftar keinginanmu yang amat panjang itu.” Pria paruh baya bergabung dalam obrolan. Ia tertawa puas di akhir seperti berhasil melancarkan aksi tengilnya. 

Aku mendengarkannya dengan seksama. Bahkan terlalu fokus sampai tak sadar pipiku sudah benar-benar melekat dengan dinding transparan itu. Bagaimana tidak? Aku sangat ingin melihat mobil itu lebih dekat, mengejarnya, atau bertemu dengan orang-orang yang ada di dalam mobil. Siapa tahu mereka bisa menjadi tamu di istanaku. Nihil. Aku bahkan tak bisa meraihnya. 

Lalu tiba-tiba mobil itu menabrak sesuatu yang tidak terlihat di depannya. Suara tubrukan terdengar sangat keras hingga menyentil gendang telinga. Aku sontak merunduk sambil menutup telinga. Suara itu menggema, menggetarkan udara yang mengelilingiku. Mobil tersebut mengambang di udara. Posisinya bukan tegak seperti mobil yang sedang berjalan, melainkan terbalik, berputar dan akhirnya jatuh kembali ke tempat asalnya. Aku melihat langsung fenomena itu, dengan mata terbelalak, persis seperti Mona Lisa. Jantungku berdegup sangat kencang, lantas tiba-tiba ia berteriak kesakitan. Aku merasakan sesuatu seperti menusuk jantungku. Sebuah pedang yang amat panjang. 

Aku berteriak sangat keras. Rasa sakit ini harus dilepaskan. Tak kuat jika harus kutahan. Mataku terpejam sangat erat, berusaha membantu menahan sakitnya.  Aku mengerang sampai air mata turun menemani. Tolong, aku butuh Lupi. Mataku beredar ke sekitar mencari keberadaan kucing penyembuh itu yang sedari tadi tak terlihat. Aku butuh dia sekarang juga. Ini lebih sakit dari dicakar oleh badut tudung setan.

Lalu seketika mataku terbuka. Ruang kosong itu tiba-tiba berubah menjadi dinding-dinding putih di kamarku. Tubuhku berbaring di kasur empuk yang kusebut sebagai singgasana. Selimut membalut ujung kaki sampai dadaku. Tepat di atasku, langit-langit yang kucari sambil menaiki seribu anak tangga akhirnya terlihat. Ada lampu-lampu Biru di sana. Aku sangat merindukannya. Tunggu, apa yang terjadi? Ke mana perginya lautan menakutkan yang tiba-tiba keluar dari sela-sela ubin? Di mana tangga-tangga itu bersembunyi?

“Kau baik-baik saja?” tanya Mona Lisa khawatir. 

Mulutku tertutup rapat. Tak kujawab pertanyaan perempuan itu, sambil pelan-pelan bangkit dan duduk. Aku butuh memproses semuanya pelan-pelan. Bahkan mataku langsung menyisir sekitar, tapi tetap saja tak kutemukan tanda-tanda pernah ada genangan air atau tangga tersebut. Hal yang sudah biasa terjadi di tempat ini kadang rasanya masih mendebarkan bagiku.

“Kau sedari tadi berbicara sendiri. Aku tahu kau memang gila karena sering berbicara sendiri. Kadang dengan kucing yang tidak terlihat. Kadang juga dengan orang-orang yang katamu muncul dari buku. Tapi kali ini aku sangat khawatir. Lihat! Kau bahkan sampai berkeringat.”

Aku segera menyentuh leherku yang terasa lembab. Benar saja. Keluar beberapa bulir keringat di sana. Apa yang tadi aku alami? Mimpi? Aku mengalami mimpi?

Ini sangat asing di kepalaku. Tak pernah sekali pun merasakannya seumur aku tinggal di istana aneh ini. Mawar pernah bercerita soal mimpinya yang dikejar oleh serigala ketika sedang menyelamatkan teman-teman bunganya. Lalu ia terbangun dengan keadaan lehernya yang basah kuyup. Katanya mimpi bisa menguras banyak tenaga, seperti ia sungguhan berlari dari kejaran hewan buas tersebut. Katanya mimpi itu seperti sebuah khayalan yang ada saat orang terlelap dalam tidurnya. Tapi … aku selalu berkhayal walau tidak dalam keadaan tidur. Bukankah itu sama saja dengan bermimpi? Maka apa bedanya dengan yang satu ini?

“Mimpi juga bisa membawa kembali kenangan atau momen yang pernah terjadi.” Suaranya terdengar merdu di telinga. Dari banyaknya tamu yang keluar dari buku terbang, aku berani bertaruh dialah yang memiliki suara paling indah.

Jika benar begitu, apakah aku pernah menaiki mobil sedan itu? Aku bahkan baru melihat bentuk mobil secara langsung, alih-alih hanya melihatnya dari buku dongeng. Aku tak pernah merasakan suasana di dalam mobil. Suara-suara yang terdengar dari sana juga terasa asing di telinga. Namun frekuensinya sungguh lembut. Rasanya seperti mendapatkan lantunan melodi pengantar tidur. Itulah kenapa pipiku sampai menempel dengan dinding transparan. Suara-suara itu seperti merenggut jiwaku.

Tak kupikirkan lagi hal tersebut. Biarlah menjadi sebuah momen yang masuk ke dalam cerita harian yang biasanya kutulis. Bukan. Aku tidak menulisnya di kertas. Kutulis momen itu di kepala. Walaupun terkadang aku tidak bisa mengingatnya. Laci-laci memoriku seperti enggan untuk menyimpan memori-memori membingungkan dan ambigu seperti itu. Lantas mereka membuangnya ke tempat antah-berantah yang tak pernah bisa kudatangi lagi. Sekarang, fokusku teralihkan pada sebuah lubang yang muncul di dinding dekat rak buku. Jalan ke ruangan tengah kembali terbuka.

“Di mana Lupi?” Lagi-lagi aku mencarinya. Kali ini bukan karena kesakitan. Entah kenapa rasa itu sudah hilang sejak aku kembali membuka mata. Mungkin tertinggal di alam mimpi. Begitulah Mawar menyebut dunia aneh itu. Aku mencari kucing itu karena khawatir. Kemunculan lubang itu benar-benar membangunkan rasa trauma yang mengendap di kepala.

“Lupi! Lupi!” Aku berjalan berkeliling ke setiap sudut kamar, berteriak memanggil namanya. Kucing itu memang tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia setuju dengan nama itu. Tapi kurasa ia tahu bahwa aku akan memanggilnya demikian.

Lalu terdengar suara mengeong yang membuatku lega. Tapi hanya sesaat, sebelum aku menyadari asalnya dari luar kamar. Aku mengintip dari ujung lubang yang ada di dalam kamar. Lupi menjilati kakinya dengan santai di ujung seberang. Ia seperti mengajakku untuk berpetualang lagi. Tapi tunggu sebentar. Aku masih punya semua ketakutan itu, membekas sekali di hatiku. Membayangkannya saja membuat bulu kudukku bangkit.

Lihat selengkapnya