Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #9

Bagian 9: Kotak Musik

Mona Lisa pernah bilang padaku, “Jika kau menangis, dadamu akan sakit, suaramu akan putus-putus dan tak terkendali.” Lalu aku berdecak tak percaya. Lihatlah dia sekarang! Sebuah lukisan yang tak pernah berekspresi sedang mengajariku mengenali perasaan menangis. Bagaimana bisa aku percaya padanya jika dia sendiri tak pernah mengalaminya? Tapi kini aku tahu bagaimana hal itu benar-benar terjadi di depan mataku.

Tengah malam, saat jam dinding besar di kamarku berdenting untuk ke-24 kalinya dan menandakan pergantian hari, aku mendadak terbangun. Bukan karena suara dentingan jamnya yang sangat menggema. Aku sudah terbiasa dengan hal tersebut. Ada hal lain yang membuatku bangun. Suara isak tangis seseorang yang asalnya dari samping rak buku. Lampu biru memantulkan kilauan berbentuk bintang, menyiram ubin-ubin kamarku dengan pola bintang yang menggemaskan. Dari kasur, aku tak bisa melihat dengan jelas sosok itu. Tapi gerakan bahunya yang naik turun terlihat samar, maka aku tahu dia sedang menangis dan suaranya jadi tak terkendali. Saat aku melihat sisi kasurku yang lain hanya ada Lupi di sana. Kucing itu membentuk lingkaran sempurna dari sekujur tubuhnya dan mendengkur dengan keras. Aku menangkap angka dan warna di kalungnya berubah lagi, menjadi sebelas dengan warna merah. Karena di sebelahku hanya ada Lupi, maka kupikir sosok itu adalah Luka. 

Usai aku membawanya keluar dari bilik misterius itu, tempat ini bergetar hebat, pertanda akan berubah bentuk. Kami akhirnya bergegas masuk ke dalam kamar, dan Lupi menutup lubang itu karena dinding-dinding di ruangan tengah bergerak tak terkendali, memicu kembali traumaku. Kemudian getaran itu lenyap, meninggalkan banyak kejanggalan yang kupikirkan di kepala dari bilik-bilik lain yang belum sempat kubuka. Mona Lisa memegang sebuah kotak musik dengan balerina yang berdiri anggun di tengah. Kusadari bahwa kamarku sekarang tidak terlalu luas. Bentuknya persegi dengan semua sisi yang sama panjang, persis dengan kotak mainan yang dipegang Mona Lisa. Lalu muncul sebuah podium persegi di tengah-tengah kamar. Podium itu berwarna putih bersih. Kukira akan ada seorang balerina yang berdiri di atasnya. Nyatanya kosong. Tidak ada yang muncul setelah itu. Sehingga kupikir aku bisa istirahat dan tidur sampai esok hari. Kubiarkan Luka dan Lupi tidur di sampingku. Toh kasurku juga besar untuk ditempati dua manusia.

Tapi malam ini tangisan Luka membangunkanku. Aku beranjak dari kasur dan menghampirinya. Kami duduk berdampingan, bersandar pada dinding putih. Pria itu menenggelamkan muka di antara kedua lututnya. Kubiarkan dia terus menangis sampai ia benar-benar merasa lega, sambil kutemani menghitung pola bintang yang menyebar di ubin-ubin kamar. Itu sudah jadi rutinitasku saat malam hari. Tak kuceritakan dari awal karena kurasa itu amat memalukan. 

Jujur saja, aku tidak pandai berhitung. Terkadang saat aku sudah sampai di bilangan puluhan, tiba-tiba aku lupa lanjutannya, berakhir mengulang dari awal. Demikianlah aku kesusahan menghitung waktu di tempat ini. Terkadang perkiraannya meleset karena aku tidak bisa menghitung dengan tepat. Berkat lampu Biru ini aku bisa tahu waktu secara spesifik.

Tiba-tiba Luka menyenggol sikutku. Aku terkejut karena terlalu fokus menghitung bintang sampai tidak sadar bahwa tangisannya sudah berhenti semenit yang lalu. 

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya pelan. Dari ekor mata aku bisa melihatnya mengusap wajahnya yang penuh ingus dan bekas air mata.

“Menghitung bintang.”

“Hitunganmu salah. Sesudah dua puluh itu dua puluh satu, bukan tiba-tiba jadi dua puluh enam dan kembali ke lima lagi.”

Aku menatapnya sinis. “Jangan kau menilaiku seperti aku adalah orang bodoh. Hargai diriku yang mau belajar!”

Lalu dia terkekeh pelan. Senang rasanya bisa membuatnya sedikit tertawa usai tangisannya membuat hatiku ikut terasa sesak. Sungguh, suara Luka ketika menangis persis seperti anjing yang menahan sakit setelah terluka parah. 

“Kau tidak pernah diajari berhitung?” Dia bertanya lagi. Aku menggeleng kuat. “Kenapa?”

“Karena tidak ada yang mengajariku di sini. Mona Lisa juga tidak bisa berhitung.”

“Kau tidak membaca buku-buku di rak besar ini.” Luka menunjuk rak buku di sampingnya.

Sekali lagi aku menggeleng. “Aku tidak mau membaca buku-buku soal berhitung. Rasanya mau meledak hanya dengan melihat sampulnya.”

Dia kemudian berdecak tiga kali. “Aku dulu suka berhitung. Ayahku yang mengajari.” Dia menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk memulai ceritanya. 

Lihat selengkapnya