Aku tak sadar jika air mata sudah berjatuhan ke pipi. Netraku menatap lamat-lamat lukisan keluarga pemberian Biru yang sudah terbelah menjadi dua. Retakan dari dalam lukisan itu menjelma pedang yang menusuk ulu hati, lantas merambat kembali ke dinding-dinding kamarku. Aku tak menghiraukan retakan yang berjalan itu. Mataku terus mengasihani lukisan di depan. Keluargaku hancur. Keluarga yang baru saja kutemui dan kurasakan langsung, hilang seketika. Aku tak akan bisa bertemu dengan mereka lagi. Maka mulai sekarang, aku membenci dunia aneh ini.
Sontak aku mengambil lukisan tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, berharap agar aku bisa mengikhlaskannya. Kemudian aku duduk di tepi ranjang, menatap kosong dinding tempat Mona Lisa biasanya menempel, entah kemana perempuan itu pergi sekarang.
Luka terus menjerit saat retakan itu merambat hampir ke seluruh dinding kamar. Aku abai. Biarkanlah retakan itu menghiasi tempat kejam ini. Dindingnya membosankan. Retakan itu bisa jadi motif yang apik untuk dilihat kapan pun. Pria itu semakin melengking saat retakan tersebut mengenai jam dinding besar, memecahkan kacanya dan mematahkan jarum jamnya. Kali ini aku tidak diam. Kacanya berjatuhan ke lantai, berdenting dan mendengung di telingaku.
“Kurasa retakan ini sangat berbahaya,” ujar Luka sambil mengamati pergerakan retakan itu. Nyalinya menciut seketika. Aku bisa melihat dengan jelas dari kejauhan bahwa kedua kakinya bergetar pelan. Tapi kuakui rasa penasarannya sangat besar. Hal-hal baru dan aneh adalah sesuatu yang menyenangkan baginya. Bagiku, itu adalah sesuatu yang melelahkan.
Lalu tiba-tiba Lupi mengeong cukup keras. Ia berlari dari sofa hijau menuju ke arahku, lantas melompat ke pangkuan dengan tergesa-gesa. Ia seperti hendak menunjukkan kalungnya. Dugaanku benar. Kalung itu berubah lagi. Kali ini tertulis angka sembilan dengan warna kuning. Aku tahu apa artinya.
Setelah mendapatkan banyak pencerahan soal kalung Lupi, aku menjadikannya navigasi. Angka dan warnanya sama dengan angka yang tertulis pada kalender berlukiskan burung dodo di dapur. Aku rasa angka-angka itu menandakan waktu. Entah apa yang terjadi jika sudah menyentuh angka satu, aku masih belum berani menyimpulkan. Yang pasti, warna-warna yang muncul menandakan bahwa ruangan akan berubah ke tiga penderitaan. Kusebut mereka sebagai “Tiga Pilar Kesialan”. Aku tidak tahu bentuk seperti apa yang muncul ketika warna hitam muncul, karena tidak kurasakan apa-apa berubah. Lebih membingungkan lagi kenapa tiba-tiba berubah sekarang? Biasanya dia akan berubah lagi setelah seharian penuh.
Kemudian kusadari bahwa jam dinding besar di ruangan ini pecah. Sebuah kebetulan yang mencengangkan bahwa jam itu satu-satunya benda yang menunjukkan waktu di tempat ini dengan spesifik dan jelas. Tanpa jam dinding itu, waktu terasa berhenti. Maka ia pasti juga terhubung dengan kalender dan angka-angka yang berubah pada kalung Lupi. Bisa jadi ini adalah hari, jam, atau minggu. Sehingga ketika jam dinding itu rusak, waktu di tempat ini bisa berjalan lebih cepat atau tak beraturan.
Aku meremas sprei kasurku kuat-kuat. Aku muak jika harus bergerak cepat dan terus didesak. Tapi tak ada waktu mengeluh. Mau tidak mau aku harus bergerak lagi untuk menyelamatkan diri. Setidaknya aku tahu tanda dan polanya, aku bisa mendahului serangan yang akan datang nantinya.
Getaran hebat datang ke kamarku beberapa saat kemudian. Dinding-dinding yang retak itu kupikir akan membaik untuk sementara. Ternyata tidak. Saat ruangan bergerak membentuk lingkaran, retakan itu bertahan di sana, bahkan masih bergerak walau lebih pelan. Langit-langit kamarku menjulang ke atas, lantas muncul tangga-tangga yang bergerak spiral menyusulnya. Aku dengan cepat mengajak Luka untuk menaiki tangga itu. Luka sempat kebingungan dan segera menanyakan banyak hal. Lalu kusumpal mulutnya dengan roti agar ia diam. Sudah kubilang tak ada waktu untuk berdiam diri. Sekalipun itu bingung dan berpikir, aku rasa dunia ini tidak memberikan kesempatan.
Genangan air keluar dari sela-sela ubin. Kali ini lebih seram. Mereka bergerak sangat cepat dan langsung membentuk lautan. Aku terbelalak saat melihatnya, lantas mengajak yang lain untuk berlari lebih cepat mengejar anak tangga yang baru terbentuk. Lupi berlari lebih dulu di depan. Sesekali ia menggunakan ekornya untuk menarikku dan Luka agar lebih cepat sampai atas. Tapi setelah ia memanjangkan ekornya, pergerakannya semakin melambat. Kurasa kemampuannya itu benar-benar menguras energi. Maka saat kami sejajar, aku bilang padanya bahwa tidak perlu menarik kami lagi. Entah dia paham ucapanku atau tidak, tapi dia benar-benar berhenti melakukannya.
Pergerakan kucing itu lebih cepat dari dua manusia yang sama-sama jarang olahraga. Lupi bisa melompat dari satu anak tangga ke anak tangga lain dengan cepat. Lompatannya bisa menjangkau tiga anak tangga sekaligus. Sedangkan dua manusia di belakangnya, melangkahi dua anak tangga saja sudah membuat kaki mati rasa. Demikianlah Lupi terus mengeong dari atas sambil menungguku dan Luka menyusul.
Tiga puluh menit menaiki tangga sudah terasa seperti seharian. Kami cukup jauh dengan lautan di bawah yang terus mengejar. Tidak, kami tidak memutuskan untuk berhenti. Kami terus bergerak menaiki anak tangga selanjutnya, namun kini lebih santai dan pelan. Sejenak kami hilangkan perasaan tergesa-gesa itu.
Napas sudah menderu tak henti-henti. Jantungku berdegup sangat kencang hingga akhirnya jatuh terperenyak ke tangga yang dingin. Kami memutuskan duduk dan beristirahat sebentar, memakan perbekalan. Persiapanku cukup matang tadi hingga aku bisa membawa banyak roti untuk dimakan saat perjalanan.
Seperti kemarin, aku duduk di pinggiran tangga, memandang dinding seberang. Diam-diam aku menunggu cahaya putih itu muncul dan menyapaku lagi kali ini. Lalu aku ingat bahwa pantulan diriku yang bercahaya tersebut pasti sudah sampai di puncak. Dia masih bertahan saat aku terjatuh hingga entah bagaimana berakhir di ranjang.