Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #12

Bagian 12: Buku Gambar

Retakan pada dinding-dinding kamarku masih bergerak merambat ke berbagai arah. Hampir seluruh dinding sempurna punya motif retakan tersebut. Setelah kembali menapaki lantai kamar, kusadari bahwa ruangan ini sepi. Biasanya setelah aku berpetualang dengan berbagai perubahan bentuk yang ada di tempat ini, seseorang akan menyambutku. Mona Lisa. Perempuan itu masih belum terlihat wujudnya. Kulihat sisi dinding tempat ia biasanya menempel. Kosong. Hanya ada retakan di sana. Aku khawatir ia juga terbelah seperti lukisan keluargaku. Aku belum meminta maaf karena telah banyak merepotkannya. Kami belum sempat memberikan salam perpisahan jika memang begitu takdirnya.

Aku membaringkan tubuh Luka di atas kasur. Lupi langsung melompat ke atas, ia berjalan melingkar di samping pria itu, lantas berbaring di sana dengan nyaman. Ekornya memanjang perlahan, membalut tubuh Luka yang lemah.

Aku meninggalkan mereka berdua dan berjalan menghampiri lubang itu. Lubang yang selalu muncul di titik yang sama dengan warna dan ukuran yang sama juga. Hatiku menyuruh untuk masuk dan melihat bagaimana keadaan di luar kamar. Dengan segera tubuhku merangkak di dalam sana. Seperti Luka, aku terus mendapatkan rasa penasaran yang membuat jantungku berdetak sangat kencang. Maka beginilah rasanya menjadi Luka. Tidak tahu sama sekali apa yang ada di ujung, bagaimana nanti kehidupanku di ujung, tapi selalu dipaksa untuk mencari jawaban yang ada di sana.

Lima menit kemudian aku sampai di luar kamar. Tanpa melihat kembali kalung Lupi, aku tahu bagaimana ruangan ini muncul lagi. Maka aku menyadari betapa pentingnya peran jam dinding besar di kamar. Kukira dia hanya menjadi penunjuk waktu untukku. Tapi setelah dipikirkan bahwa dia juga bisa langsung terhubung dengan lampu buatan Biru, aku sadar bahwa dia punya banyak koneksi dengan istana ini.

Puing-puing bilik tempat Luka tinggal masih berserakan di sisi kanan. Kukira akan tertelan oleh sela-sela ubin. Mengingat pernah keluar air yang dahsyat dari sana, kurasa sela-sela ubin di tempat ini sama sekali tidak boleh diremehkan.

Rasa penasaran menuntunku melihat-lihat sekitar. Langkahku terhenti tepat di depan pintu bilik pertama di sebelah kiri. Wajahku langsung menempel di kaca jendela itu. Aku lupa jika jendela tersebut memantulkan bayanganku hingga terasa seperti menatap seseorang yang tengah mengintip keluar secara bersamaan. Bahkan aku sampai mundur beberapa langkah karena masih merasa takut. Sungguh. Itu adalah pengalaman yang menyeramkan.

Kulihat bagaimana ukiran pada bingkai kayu yang melingkari kacanya. Setelah kemarin aku bisa membuka jendela bilik Luka dengan memahami ukiran pada bingkai, maka kurasa yang satu ini juga punya hal yang sama. Pada bingkai kayu itu, terdapat beberapa kata yang terukir aneh. Mereka tak lagi bisa dibaca seperti ukiran sebelumnya. Tatanannya benar-benar aneh hingga aku kesusahan untuk sekadar mengejanya. Bahkan rasanya pusing untuk memikirkan banyak potensi dan kemungkinan kata yang terbentuk dari susunan huruf-huruf di bingkai itu.

Menyerah? Tidak. Aku tidak akan menyerah. Tempat ini sudah membuatku muak. Aku tak bisa menyerah dan tunduk begitu saja kepadanya. Demi diriku sendiri, demi Luka, Mona Lisa, dan Lupi. Entah kenapa mereka kumasukkan ke dalam komitmen, yang pasti aku harus bisa membalas budi ke mereka.

Iakuynem lah gnay kiab halada naaigahabek igab anyalages,” ejaku pelan. Dahiku sempurna mengerut. Kedua alisku bertegur sapa satu sama lain.

Aku mencoba untuk berjalan berkeliling sambil memainkan huruf-huruf yang kutemukan itu di kepala.

Ada buku dongeng tentang seorang detektif yang suka dengan permainan kata. Ia mencari seorang pembunuh berantai yang sengaja memancingnya dengan memberikan petunjuk berupa permainan kata. Setiap pagi, ia selalu mendapatkan surat dari sang pembunuh yang ditaruh pada kotak pos. Detail kecil yang menjadi sebuah rutinitas baru ketika ia menerima amplop surat tersebut, adalah bau wewangian yang menempel di sana. Pembunuh menyemprotkan parfum yang berbeda-beda setiap kali mengirimkan surat. Setelah dibedah isinya, surat itu tak sepenuhnya memberikan petunjuk keberadaan penulis, karena isinya hanya soal curhatan pembunuh tersebut.

“Aku muak dengan tanggung jawab negara yang diberikan kepadaku untuk menemukannya. Tapi permainan kata yang dia berikan padaku lewat surat-surat itu adalah yang paling seru,” ujar Marlo kala itu. Setiap bangun pagi buta ia seperti disajikan papan puzzle dan ditantang untuk menyusun sampai matahari menyapanya. Itu adalah hal yang menyenangkan untuknya.

Lihat selengkapnya