Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #13

Bagian 13: Serakah

Mona Lisa adalah lukisan yang sudah menemaniku tinggal di tempat aneh ini. Sekali lagi kuberi tahu bahwa terkadang memang dia terlihat bisa berbicara, terkadang juga hanya melotot dengan wajah datar. Dia sudah seperti pengasuhku di istana yang besar ini. Maka aku pun tidak tahu apakah dia sebenarnya ilusi atau memang bisa berbicara demikian. Sama seperti makhluk-makhluk dari dalam buku terbang yang tak bisa mendengar atau melihat Mona Lisa bergerak, perempuan di lukisan itu juga tidak bisa melihat beberapa makhluk baik yang datang. Aku pun tidak tahu apakah makhluk-makhluk itu memang benar-benar ada di sekelilingku atau hanya ilusi yang kubuat saja.

Semuanya terasa transparan di kepalaku. Terkadang aku sadar bahwa aku memang membuat skenario palsu di sana agar apa yang kurasakan menjadi nyata. Sama halnya dengan manusia lain, aku juga punya sifat serakah. Banyak yang kuinginkan di tempat aneh ini, terutama teman dan keluarga. Maka mereka kuhidupkan sendiri dengan kemampuanku dalam berimajinasi. Jika Biru bisa menciptakan dunia lewat lukisannya, kupikir aku juga bisa menciptakan kehangatan dari imajinasi.

Aku selalu bertanya-tanya dari mana kemampuan imajinasiku terbentuk. Jika benar aku lahir dari sebuah keluarga yang katanya memberikan sifat turun-temurun, maka dari mama atau papa kah kemampuan itu lahir? Kalau apa yang telah kulihat di bilik sebelumnya adalah benar adanya, maka Mama juga punya imajinasi yang luar biasa.

Mona Lisa pernah bercerita bahwa pelukisnya pandai berandai-andai. Kupikir Mama juga demikian. Membayangkan bagaimana pemandangan di depannya bisa menjadi sebuah lukisan, butuh imajinasi yang besar. Belum lagi jika harus menambahkan detail sesuai gaya melukis yang diinginkan. Butuh beribu-ribu kali otak berputar untuk menghasilkan imajinasi.

Sekali lagi, manusia adalah makhluk yang serakah. Kupelajari dari salah satu buku terbang. Pemilik Semesta menciptakan manusia untuk mencari jati dirinya tetapi tidak boleh sampai lupa daratan. Namun manusia selalu menginginkan lebih. Saat sudah mendapatkannya ia menjadi angkuh dan tidak tahu sopan santun. Lupa daratan? Jati dirinya saja sudah hilang entah ke mana. Ia selalu ingin jadi apa pun, siapa pun, dan bagaimanapun caranya. Pujian adalah makanan bagi keserakahan manusia. Mereka tak lagi menjadi diri sendiri ketika pujian itu tiba-tiba berhenti. Mereka dibentuk oleh pujian-pujian yang melayang di sekitarnya tanpa tahu bahwa itu dapat merubah jati diri mereka.

Begitupun denganku sekarang. Aku lupa bahwa aku harus kembali ke kamar dan menemani Luka yang terbaring lemas. Aku butuh pujian. Aku butuh kejelasan. Aku menginginkan lebih dari apa yang bilik sebelumnya berikan padaku. Keluarga. Satu kata itu yang terus-terusan kucari di tempat ini. Ternyata Perkasa berhasil merusak jati diriku. Seharusnya aku tidak mendengarkan perkataannya. Seharusnya dari awal aku tidak tergiur untuk keluar dari kamar agar kehidupanku terus damai dan tentram. Sekali aku keluar dari sana, banyak sekali hal yang kuinginkan selanjutnya.

Harmonika mengalun merdu di atas sebuah panggung besar. Penonton bersorak gembira saat pemainnya mulai menari dan menguasai panggung. Aku terdiam di tengah-tengah panggung, menatap ribuan orang yang duduk bahagia di bawah. Mereka bertepuk tangan mengikuti alunan harmonika dari seorang pria paruh baya yang terus bergerak mengelilingiku. Lalu ia berhenti tepat di depanku, menutupi lampu sorot yang hendak menyorot diriku. Ia berjongkok hingga tingginya sejajar denganku.

“Ayo, bernyanyilah! Jangan lihat orang lain, lihat saja Papa,” ujarnya pelan sembari memijat kedua bahuku. Lantas ia kembali memainkan harmonikanya dan menari di panggung.

Lihat selengkapnya