Luka terus menarik lenganku untuk kembali ke kamar. Kakiku bertahan sekuat tenaga, hendak melangkah mendekati bilik terakhir. Di depan sana, dinding-dinding bergerak kesana kemari, bertumbukan dan meniupkan debu pada wajahku. Aku tak peduli. Aku hanya ingin bertemu dengan anggota keluargaku yang lain. Aku tak ingin kembali ke kamar itu lagi dan hidup sendirian. Aku ingin punya keluarga seperti manusia lainnya.
Luka lantas menampar pipiku dengan keras. Aku terkesiap melihat tingkahnya yang tiba-tiba. Ia menatapku dengan kesal dan marah. Wajahnya memerah bak tomat. Lalu ia berteriak, “Lupi! Aku butuh ekormu!” Dalam sekejap, ekor kucing itu melilit pinggulku dan menariknya dengan kuat untuk memasukkan kembali tubuhku ke dalam kamar lewat lubang emas. Luka menyusul kemudian.
Ruangan itu menyusut. Lubang emas di dinding menghilang seketika. Ketika tersadar bahwa akses tertutup, aku sontak mendekati dinding itu, memukulnya frustasi.
“Lupi! Bukakan lubangnya!” Aku berjalan menghampiri kucing putih itu. Ia dengan cepat berlari ke belakang kaki Luka. Ekornya berdiri tegak, ketakutan.
“Sadar, Pilu. Kau sudah membahayakan dirimu sendiri.”
“Kau jangan ikut campur!” kesalku pada Luka. Pria itu terus-terusan melarangku melakukan hal yang jelas-jelas aman bagiku. Aku hanya ingin menggapai apa yang selama ini kuimpikan. Salahkah jika aku menginginkannya sekarang? “Ayo, Lupi! Bukakan!”
“Jangan suruh-suruh Lupi lagi! Dia juga butuh istirahat. Kemampuannya tidak bisa selamanya kau pakai!”
Aku berdecih. “Seharusnya dia tidak usah menyembuhkanmu. Kau pantas mendapatkan ganjaran atas kebodohanmu sendiri karena terjun ke lautan itu. Kemampuannya bisa digunakan untuk membukakan lubang ke ruangan itu lagi.”
Luka ternganga mendengar perkataanku. Matanya membulat sempurna. Aku tak peduli dengan pria itu lagi. Dengan segera aku menangkap Lupi yang terus bersembunyi di belakang Luka. Kucing itu melompat ke arah lain dan melarikan diri.
Aku mengejarnya. Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan kucing itu untuk membuka lubang itu kembali. Luka menahan tubuhku, memeluknya dari belakang untuk memblokir pergerakanku. Tak akan kubiarkan rencananya berhasil. Aku mendorongnya hingga terperenyak ke lantai. Tenaganya sangat kuat sehingga tubuhku juga terpental ke arah lain dan menabrak sebuah patung.
Baru kusadari bahwa patung badut tudung setan dengan rok tutu itu muncul lagi. Matanya langsung melirik ke bawah, tepat ke wajahku yang mendongak ke atas. Aku segera menjauh darinya.
Detik berikutnya kamarku berputar. Aku segera berpegangan pada sisi rak buku seerat mungkin sambil memejamkan mata. Membuka mata akan membuatku lebih cepat pusing dan aku akan pingsan lagi.
Patung itu mulai mengeluarkan teriakan dan celotehan yang memekakkan telinga. Berbeda dengan suara Pilu yang terdengar sangat kecil di telingaku, teriakan patung itu begitu keras hingga membuat telingaku kembali kesakitan. Aku menutup salah satunya dengan telapak tangan. Satunya kubiarkan terbuka karena tanganku yang lain digunakan untuk berpegangan.
Jauh dari tempatku berdiri, Luka terlihat berlari di tempat, menghadap ke arah yang bertolak belakang dengan perputaran kamar ini. Kakinya terus melangkah hingga keringat mulai berkumpul di pelipis. Aku melihat mulutnya bergerak seakan tengah berteriak. Namun tak kudengar teriakannya. Mungkin karena jarak kami jauh dan aku menutup salah satu telingaku, sehingga tak bisa mendengarnya dengan sempurna.
Kucoba untuk menghiraukannya. Kakiku pelan-pelan bergerak ke sisi kamar yang lain. Mataku terus menyisir setiap sudut yang ikut berputar, mencari keberadaan Lupi yang masih kubutuhkan kemampuannya. Nihil. Aku tak melihat kucing itu sama sekali. Curiga Luka memang menahanku agar Lupi bisa membuat lubang untuk dirinya sendiri keluar dari kamar ini dan menjauh dariku.