“Kau bisa lihat Mona Lisa?”
“Siapa Mona Lisa?” tanya Luka bingung. Ternyata dugaanku salah.
Aku tidak punya petunjuk sedikit pun kemana perginya perempuan itu. Tapi yang sekarang menjadi pusat perhatianku adalah bayangan yang terpantul dari cermin itu sangat aneh. Saat kucermati cermin itu lebih dekat, bingkai kayunya mirip sekali dengan milik Mona Lisa. Terbesit di kepalaku sebuah kemungkinan bahwa ia benar-benar menghilang dan menjelma menjadi cermin aneh ini. Lebih anehnya lagi pantulan kami tertukar.
Segaris dengan tempatku berdiri, yang terpantul adalah bayangan Luka. Begitu juga sebaliknya. Kami sudah mencoba bertukar tempat, tapi pantulan itu menempel pada kami dan ikut berpindah posisi.
“Jika memang semua bilik di ruangan itu adalah petunjuk soal keluargamu, maka aku yang tinggal di bilik pertama mungkin adalah bagian dari keluargamu juga.” Begitulah hipotesis yang diungkapkan oleh Luka kepadaku.
Aku mengernyitkan dahi. Bukan bingung. Lebih ke susah untuk dipercaya. Aku memang menginginkan sosok kakak sedari tadi. Tapi jika yang diberikan semesta adalah Luka, sepertinya itu akan membuat hubungan kami canggung.
“Kapan kau menemukan cermin ini?” tanyaku penasaran. Pasalnya saat kembali dari lautan, aku berani bertaruh cermin itu tidak ada.
“Entahlah sejak kapan cermin ini ada. Saat aku bangun dari pingsan, dia sudah menempel di dinding dan langsung menyapa,” jawabnya. “Kau dengar suara detak jantung sekarang ini?”
Aku mencoba untuk tak berbicara sedikit pun demi mendengarkan apa yang dimaksud oleh Luka. Nihil. Aku tak mendengar apa-apa selain suara Luka yang semakin kecil. Tunggu sebentar.
“Tadi aku sempat mendengarnya, cuman sekarang entah kenapa aku tak mendengarnya sama sekali. Suaramu saja samar-samar bahkan hampir tidak terdengar.”
Tanpa merespon perkataanku, ia menuntun salah satu tanganku untuk menyentuh dada bagian kirinya. Ia juga menyentuh dada bagian kiriku dengan tangannya. Kurasakan detak jantung yang sama dengan milikku. Sama juga dengan manusia pada umumnya.
“Jantung kita masih berdetak, kan?”
Luka menggeleng. “Bukan itu maksudku. Jantung kita berdetak secara bersamaan. Satu tempo. Kurasa kita terlahir dari keluarga yang sama.”
Lagi-lagi dahiku mengkerut tak percaya. Aku duduk di tepi ranjang untuk memproses semuanya pelan-pelan. Kucoba untuk mencoret keinginanku untuk mempunyai seorang kakak jika semesta memang memberikanku Luka sebagai sosok tersebut. Lalu aku memikirkan berbagai skenario tentang apa yang akan kutemui selanjutnya di bilik terakhir.
Luka duduk di sampingku. Ia tiba-tiba bertanya, “Kau tahu kenapa aku tiba-tiba melompat ke lautan?”
Aku menggeleng kuat. Terus terang aku penasaran sekali dengan hal tersebut. Aku merasa Luka tidak terlalu bodoh untuk melakukan hal senekat itu. Buktinya dia bisa berhitung dibanding denganku. Jadi jika dia meloncat ke lautan secara tiba-tiba, kurasa itu ada alasannya.
“Aku melihatmu melompat dari atas.” Tak kusangka jawaban itu berhasil membuat bulu kudukku berdiri tegak sempurna. Aku memang tak mengharapkan jawaban panjang yang keluar dari mulutnya. Namun aku juga tak berekspektasi jawabannya akan seaneh itu.
“Tapi aku tidak melakukannya.”
“Sungguh?”