Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #16

Bagian 16: Matahari

Mataku terasa sangat berat untuk terbuka lebar. Kepalaku seperti habis dihantam seribu palu berkali-kali tanpa henti. Sinar matahari masuk lewat celah-celah kecil di ruangan ini, menyediakan ruangan hangat bagi tubuhku. Aku hendak menggerakkan lengan untuk duduk di tepi ranjang. Sayangnya gagal. Tubuhku kehilangan energi untuk bergerak. Belum lagi ada sebuah selang yang tertancap pada punggung tanganku.

Aku mengedarkan pandangan. Ruangan ini terlihat asing. Aku tidak sedang berada di istana. Ini di mana? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di denganku sekarang? Bagaimana dengan Mona Lisa, Lupi, dan juga Luka? Ke mana mereka? Benarkah mereka sudah tiada? Pertanyaan itu tanpa henti terlintas di kepalaku dan terus berputar di sana.

Aku menoleh ke samping kiri. Ada sebuah jendela besar yang tertutup tirai di sana. Aku mencoba untuk membukanya. Cahaya matahari langsung menampar wajahku. Terlihat hamparan langit biru cerah di atas sana. Maka aku tahu itu adalah warna langit yang dimaksud oleh Biru. Kala itu aku hanya merasakannya saat berkunjung ke dunia atau lewat lampu pemberiannya. Apakah sekarang aku benar-benar bisa melihatnya secara langsung?

Tiba-tiba terdengar suara gesekan pintu. Seorang perempuan dengan rambut disanggul dan pakaian rapi masuk ke dalam ruangan sembari membawa kursi roda. Ia menyapaku dengan melambaikan tangannya.

“Halo, Luka. Aku Lisa, perawat yang bertanggung jawab untuk merawat kamu selama beberapa saat ke depan untuk pemulihan,” ujarnya dengan semangat. Ia tersenyum sangat lembut. Tatapannya teduh dan menenangkan. Ia menghampiri ranjangku dengan senyumannya yang tak surut-surut.

“Namaku bukan Luka.” Aku mencoba mengoreksi panggilan yang dilontarkan Lisa kepadaku. Aku suka dengan nama itu, namun untuk saat ini mengingatnya adalah suatu hal yang menyakitkan.

“Tentu saja namamu Luka.” Ia menyentuh tangan kananku dan memperlihatkan gelang yang melingkar di sana. Terukir nama Luka dengan jelas yang membuatku terkejut. “Tapi kata dokter kau memang suka dipanggil Pilu. Tak apa jika kau mau begitu.”

Aku terdiam. Enggan untuk mengucapkan satu pun kata. Tatapanku kosong, mencoba untuk memproses semuanya pelan-pelan.

Lihat selengkapnya