Diawali dengan penampakan pesawat Airbus A320 British Airways di padang luas cakrawala biru merona. Dari London menuju Jakarta. Bersiap akan melakukan pendaratan di Bandara Cengkareng, Soekarno-Hatta.
Di dalam ruang kabin kelas satu, Andin tampak semringah. Sebentar lagi akan berjumpa dengan kedua orang tuanya yang telah lama ditinggalkannya guna menempuh studi di negeri orang.
Andin Nabila, gadis rupawan yang saat ini berusia 24 tahun, merupakan putri satu-satunya dari keluarga Bapak Hermanto, seorang pengusaha sukses. berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan gelar Master of Business Administration (MBA).
Pesawat telah mulai mengurangi kecepatan dengan menjulurkan kedua sirip sayap di kiri dan kanan, diikuti suara gemeretak roda yang telah dikeluarkan dari perut bawah pesawat.
Dari jendela pesawat tempat duduk Andin, terlihat deretan kapal besar dan kecil saling berlomba untuk sampai ke dermaga. Seleret riak gelombang putih memanjang terlihat di buritan masing-masing kapal. Pemandangan berganti dengan bentangan sawah di sepanjang jalur pantai sebelum melintasi deretan bangunan gedung tinggi dan kompleks perumahan.
Ujung landasan sudah terlihat jelas di kaca depan kokpit pesawat. Terdengar suara terakhir perintah otomatis di kokpit, "Minimum!"
Di saat itu juga, roda pesawat menjejak landasan beton mendecit, menggerus aspal. Berasap! Pesawat meluncur deras di sepanjang landasan pacu, kemudian melambat dengan sendirinya, berbelok menuju garbarata lorong untuk penumpang turun.
Penumpang terlihat sibuk melepaskan sabuk pengaman, tidak sabar menyalakan ponsel masing-masing untuk mengabari kerabat bahwasanya mereka sudah mendarat. Andin pun melakukan hal yang sama. Mamanya adalah orang pertama yang ia hubungi.
"Halo, Ma, Andin sudah sampai. Sebentar lagi keluar ... siapa saja yang jemput, Ma?"
"Syukurlah kamu sudah mendarat dengan selamat, Nak. Ini ada Papa, Cassandra. Juga Anto dengan istrinya, Siska, membawa anak-anaknya. Ada juga Bude dan Pakde. Semua sudah pada kangen samamu."
Mama Andin buru-buru memberikan ponselnya kepada Hermanto, suaminya.
"Halo, anak Papa, kamu baik-baik saja, kan? Sudah tidak sabar Papa menunggumu. Ada banyak bagasi kamu bawa?"
"Baik-baik saja, Pa. Lumayan, ada tiga koper besar Andin bawa. Wah, ramai juga yang jemput Andin, jadi pengin cepat-cepat ketemu."
"Jangan tergesa-gesa. Papa, Mama, juga semuanya sabar, kok, menunggumu."
"Terima kasih, Pa, Andin matikan dulu, ya, mau beresin barang bawaan."
"Ya, kita semua menunggumu di pintu keluar."
Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Andin bergegas menuju pintu keluar mengenakan gaun warna oranye dengan blazer melingkar di pundaknya. Ia tampak anggun dan cantik bak seorang model. Sambil menarik kereta roda bagasi yang dipenuhi tiga koper besar, Anto dengan sigap bergegas mengambil alih kereta roda bagasi yang terlihat berat itu.
Anto dahulunya merupakan sopir pribadi keluarga Hermanto. Biar bagaimanapun, Andin masih dianggap sebagai majikannya meskipun sekarang Anto telah berubah profesi dan tidak menjadi sopir pribadinya lagi. Andin sempat tertegun melihat Anto yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya.
"Hai, Anto, apa kabar? Mana istrimu?"
"Baik, alhamdulillah, Neng. Mari saya bawakan bagasinya."
"Terima kasih, Anto."
Segera Andin berlari menubruk dan memeluk mamanya.
"Ya ampun anakku, semakin cantik saja kamu sekarang ... baik-baik saja kamu, Nak?"
"Baik, Ma. Papa, apa kabar?" tanya Andin berbalik memeluk papanya.
Kini mereka bertiga berpelukan melepaskan rasa rindu. Kemudian bergantian memeluk Pakde dan Bude serta kerabat lain yang turut menjemputnya.
Giliran Anto memperkenalkan istrinya, Siska, dan kedua anaknya yang baru kali ini dilihat oleh Andin.
"Wah, enggak nyangka istrimu secantik ini, Anto. Mana anak-anakmu? Sudah besar-besar, ya. Kelas berapa kalian sekarang?" sapa Andin kepada kedua anak Anto sambil memberikan dua keping cokelat satu per satu.
Beralih ke Cassandra, sahabat setia yang selalu ada dalam suka dan duka, mereka berpelukan dengan hangat.
"Hai! Apa kabar? Bagaimana dengan kuliahmu, sudah selesai?"
"Baru sebulan kemarin wisuda. Makin cantik saja kamu sekarang, apa enggak kepincut sama orang bule di sana?"
"Apaan, sih, kamu juga makin modis aja. Mana pacarmu, enggak diajak?"
"Lapi sibuk dia, kapan-kapan nanti aku kenalin."
"Kalian mau makan dulu sebelum kita pulang?" Ibu Andin menyela.
"Boleh juga, Ma. Makan di mana kita?"
Berombongan mereka memasuki restoran cepat saji di bandara sebelum nantinya konvoi menuju rumah keluarga Hermanto. Pada malam hari, telah berkumpul Andin, Mama, dan Hermanto menikmati makan malam bersama.