Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #2

Rencana Dimulai

Mobil yang dinaiki Andin dan staf terlihat menyusuri jalan berbukit yang belum diaspal menuju base camp Bukit Seluma sejauh tujuh belas kilometer. Satu jam waktu yang dibutuhkan dari tepi jalan provinsi.

Base Camp berada di puncak Bukit Seluma, terdiri dari beberapa bangunan kayu yang disangga dengan balok berdinding papan. Di bagian paling atas perbukitan merupakan bangunan kantor utama, bersebelahan dengan mes untuk karyawan staf.

Ke bawah lagi, ada tiga bangunan. Salah satunya kantin tempat makan yang berdampingan dengan mes karyawan. Ada juga bangunan workshop untuk perbaikan peralatan. Terdapat juga lahan parkir yang cukup luas untuk semua kendaraan mobil proyek maupun alat berat yang digunakan.

Sedikit turun ke bawah, ada sebuah jembatan di atas sungai. Sungai tersebut tidak begitu besar, sedang-sedang saja, melintang di jalan utama proyek.

Di samping jembatan, ada warung milik Pak Amat, penduduk setempat. Terdapat juga beberapa rumah kayu sederhana yang merupakan tempat penampungan hasil panen biji kopi.

Perkebunan kopi sendiri terletak di atas bukit bangunan base camp, dikelola oleh masyarakat sendiri yang datang dari berbagai pelosok desa sekitar. Bahkan, ada warga yang datang dari kota untuk ikut serta berkebun kopi. Tidak heran jika pada setiap pekannya, puluhan kepala keluarga berbondong-bondong menuju Bukit Seluma untuk berkebun menanam kopi.

Di bawah jembatan sungai inilah awal kejadian memilukan bakal dialami oleh beberapa anak muda nantinya. Aktivitas proyek ini sebenarnya sudah berjalan sejak tiga bulan lalu. Namun dengan berjalannya waktu, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Medan lokasi yang berat menjadi salah satu faktor utamanya. Alhasil, beberapa kali kegiatan proyek sering terhenti.

Mereka adalah Astrid, Olivia, Maharani, Dewi, beserta Andy, Bambang, Marcel, dan Arief. Mereka merupakan sekumpulan anak muda lulusan Teknik Pertambangan dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta.

Astrid dari bagian Geologi. Olivia, S-1 Engineer. Maharani bertugas di Laboratorium Quality Control. Dewi di bagian Administrasi Kantor, berasal dari Kota Bengkulu. Sementara kelompok pria seperti Andy, juga S-1 Engineer. Bambang di bagian Eksplorasi bersama Arief, sedangkan Marcel di bagian Geostatistik.

Saat ini mereka sedang berkumpul di kantin untuk makan siang.

"Bete juga, nih, tinggal di mes melulu. Mana cuti masih lama lagi," Astrid memulai pembicaraan.

"Iya, nih, boring banget. Bagaimana kalau kita ke kota, minta izin sama Ibu Dian dan Mbak Andin?" Dewi melontarkan usul kepada teman-temannya.

Disahut oleh Arief, "Apa kalian tidak pernah mendengar banyak orang membicarakan air terjun viral itu? Bagaimana kalau kita hunting ke sana saja? Pasti seru banget daripada ke kota, habis-habisin duit saja."

Arief ikut nimbrung, "Boleh juga, tuh. Gue udah lama banget mimpiin pengin ke sana. Dengar-dengar cerita orang, bagus sekali pemandangannya. Penasaran seperti apa, sih, wujud air terjun itu."

Maharani dan Olivia berebut menyahut, "Mau dong, kita ikutan ke sana!"

"Memang kamu bisa berenang?" Olivia bertanya kepada Maharani.

"Nggak... nggak bisa berenang," jawab Maharani dengan sendu.

"Aduhhh, kasihan deh lo. Bahaya, tahu, kalau nggak bisa berenang," Olivia memperingatkan Maharani yang berencana mau ikutan.

"Tapi apa diperbolehkan sama Ibu Dian juga Pak Raymond, jika kita pergi ke sana?" imbuh Marcel.

"Sebaiknya kita izin dulu. Seandainya ada apa-apa, kita, kan, tidak disalahkan," ujar Arief.

Kebetulan Ibu Dian dan Andin mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan, kemudian menghampirinya.

"Ada apa ini, kalian ribut-ribut?"

"Asyik nih, ada Ibu Bos datang. Ini, Bu Dian, Mbak Andin, anak-anak punya rencana mau hunting ke air terjun yang lagi ramai dibicarakan. Sepertinya menantang banget untuk didatangi," Bambang menjelaskan maksud tujuan mereka kepada Ibu Dian dan Andin.

"Oh... itu, Andin juga pernah mendengar. Aku juga mau ikutan dengan kalian dong. Boleh, nggak?" Andin nyeletuk begitu saja, tidak mau kalah dengan mereka.

Serentak mereka bersorak gaduh mendapat respons dari putri pemilik perusahaan ini.

"Hore! Mbak Andin mau ikutan kita!"

"Tunggu dulu! Memang tidak berbahaya ke sana?" Ibu Dian memperingatkan.

Arief menegaskan, "Kami, kan, anggota pencinta alam di Jogja, Bu. Sudah terbiasa menghadapi rintangan seperti itu. Rasanya, sih, tidak terlalu sulit menemukannya."

"Begini juga, Andin pernah juga lho mendaki gunung waktu kuliah di Inggris dulu."

"Wah... hebat juga nih Mbak Andin. Nggak nyangka kita lho, ternyata Mbak Andin pencinta alam juga. Kapan dong kita diajak ke sana, Mbak?" Astrid ikut mengomentari.

"Iya, Mbak, ajak kita ramai-ramai ke sana. Patungan, yuk, ke luar negeri sama Mbak Andin," Maharani ikut nimbrung.

Olivia meledek, "Naik getek kali kita ke sana. Memang murah tiket pesawatnya?"

"Ya sudah, kita jangan menghayal yang jauh-jauh. Bisa menemukan air terjun di sini saja juga sudah keren banget rasanya. Ibu Dian mau ikutan juga?" tanya Astrid.

"Nggak, lah, Ibu sudah tidak muda lagi. Kalian itu yang cocok ke sana. Tapi ingat ya, bukan Ibu yang menentukan boleh tidaknya kalian pergi ke sana. Pak Raymond sebagai safety kita yang paling berhak menentukannya."

"Wah, cocok kalau begitu. Mana, ya, Pak Raymond?" Bambang menanyakan.

"Pak Raymond sedang di lapangan, nanti kita diskusikan dengannya," Andin memberikan harapan.

Astrid berharap sangat, "Iya, Mbak, mumpung kita lagi tidak ada kegiatan. Hitung-hitung uji nyali. Siapa tahu kita mendapatkan sesuatu yang menarik di sana nanti."

"Kenapa kamu mau ikut-ikutan dengan mereka?" Ibu Dian berbisik ke Andin sambil berjalan kembali ke tempatnya.

Lihat selengkapnya