"Sudah, sudah! Jangan buat keributan! Pak Raymond akan menyampaikan peralatan apa saja yang akan dibawa nanti. Juga beberapa panduan keselamatan yang harus kalian turuti," Andin meminta anak-anak menyudahi keributan.
Raymond menegaskan lagi, "Saya perlu mengingatkan kepada kalian, bukan untuk menakut-nakuti. Tapi ini penting, bilamana nantinya ada yang cedera atau apa pun, itu tidak dianggap sebagai kecelakaan kerja karena bukan di wilayah konsesi area pertambangan kita. Jadi, akan menjadi tanggung jawab kalian masing-masing. Bisa dimengerti?"
Semua menyahut, "Dimengerti, Pak."
Raymond melanjutkan lagi, "Karena ini keinginan kalian sendiri, di luar jam kerja, segala risiko akan kita tanggung bersama. Saling menjaga keselamatan satu sama lain. Semua wajib menggunakan rompi, pelampung, dan sepatu. Bawa makanan dan minuman secukupnya. Jangan lupa perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, P3K."
"Wah, boleh juga pengarahan dari Pak safety kita. Sepertinya peduli sekali dengan keselamatan kita," puji Dewi, berbisik kepada Arief.
"Oh ya, satu lagi. Kita perlu tali tambang, bilamana nanti menemukan arus deras di sungai. Kalian bisa mengikatkan badan satu dengan yang lainnya agar tidak ada yang terseret arus. Segala kemungkinan harus kita antisipasi. Mbak Andin, mau menambahkan?"
"Tentukan kapan kita berangkat. Kalau bisa pagi-pagi agar menjelang sore nanti kita bisa kembali ke base camp. Kita perlu dokumentasi, jadi jaga kamera dan ponsel kalian," ujar Andin menambahkan.
Marcel memberikan usul kepada Andin, "Bagaimana kalau lusa kita berangkat, Mbak? Besok kita observasi lokasi dulu sembari menanyakan, siapa tahu ada warga desa yang pernah ke sana."
"Idemu bagus, sekalian cari tali tambang yang akan kita gunakan. Bisa, kan?" Raymond memuji Marcel.
"Siap, Pak! Nanti saya bersama teman-teman akan mengusahakan mencari sampai dapat," janji Marcel.
"Sepertinya sudah cukup diskusi kita malam ini. Sekarang kalian istirahat, pastikan segala sesuatunya dapat dipersiapkan dengan baik," Raymond mengakhiri diskusi malam ini.
Serentak anak-anak membubarkan diri menuju kamar masing-masing. Tinggal Raymond dengan Andin. Raymond sudah memutuskan akan ikut serta memimpin perjalanan guna menemukan air terjun tersembunyi.
"Terima kasih, Mas, pengarahannya. Mas tidak keberatan, kan, nantinya menemani Andin, ikut bersama mereka?"
Raymond tidak bisa mengelak, "Suatu kehormatan bagi saya bisa mengawal Mbak Andin nantinya."
Berbunga perasaan Andin, ingin rasanya memeluk Raymond, tetapi malu.
Di balik itu, hal ini akan menjadi beban berat bagi Raymond mengingat ini bukan perjalanan biasa. Raymond bisa memperhitungkan risiko dan bahaya yang akan dihadapinya.
Apalagi ia akan mengawal Andin nantinya. Ada firasat yang tidak bisa dijelaskan. Tidak mungkin juga melarang atau menolak. Ini wilayah hobi anak muda zaman sekarang yang suka mencari tantangan dan petualangan baru, sesuai dengan pasion atau hasrat yang dimilikinya.
Hal itu membuat dirinya susah tidur memikirkan hal ini. Bayangan Andin akan ikut serta dalam rombongan membuat hatinya resah dan gundah.
"Bagaimana seandainya terjadi banjir bandang?" Raymond sempat merasa khawatir.
Akan tetapi, Raymond pernah mendengar dari warga setempat bahwa tidak pernah terjadi banjir bandang di sungai tersebut selama beberapa tahun ini.
Pada pagi hari berikutnya Raymond terbangun. Ia melihat jam, sudah hampir jam delapan pagi. Kesiangan, ia pun bergegas mandi. Dengan mengenakan pakaian seragam, buru-buru menuju kantin. Sudah ditunggu rupanya.
"Selamat pagi, Pak Budi, Ibu Dian, Mbak Andin. Maaf, kesiangan bangun," sapa Raymond.
Ibu Dian membalas, "Kami bertiga sudah selesai sarapan. Tumben kesiangan, Pak Raymond. Memang banyak nyamuk di kamar semalam?"
"Bukan itu, Bu. Semalam agak kurang enak badan saja."
"Mungkin terlalu capek, Pak Raymond. Hari ini tidak usah ke lapangan dulu. Toh, tidak ada kegiatan di sana. Saya berencana dengan Ibu Dian akan ke kota pagi ini untuk menyampaikan laporan."
"Mbak Andin akan ikut ke sana juga?"
"Nggak ikutan, kok. Kita kan rencananya mau survei ke bawah pagi ini,"
"Besok kalian beneran, nih, mau berangkat dengan anak-anak berburu air terjun itu?" Ibu Dian ingin memastikan.
"Melihat tekad anak-anak yang ingin sekali ke sana, saya akan mengawal mereka, Bu. Juga Mbak Andin, tentunya. Rencananya lusa berangkat."
"Baguslah, pasti nanti akan banyak cerita menarik sepulangnya kalian dari sana. Ibu pesan hati-hati saja. Seandainya medannya sulit, jangan dipaksakan. Bukan begitu, Pak Budi?"
"Saya percaya Pak Raymond banyak pengalaman soal itu. Pasti tahu apa yang harus dilakukannya nanti," penuh keyakinan.
"Sepertinya sudah waktunya kita berangkat, Pak Budi. Andin, Pak Raymond, Ibu berangkat dulu. Semoga sukses kalian besok. Mau pesan apa? Nanti Ibu bawakan."
"Donat saja seandainya Ibu tidak keberatan."
"Donat yang kapan hari kita ke sana? Tenang saja, nanti Ibu belikan. Pak Raymond, ada titipan?"
"Pak Budi, saya butuh peluit yang nyaring bunyinya. Sepertinya ada dijual di toko peralatan. Sepuluh saja cukup, Pak, buat anak-anak lusa nanti," pinta Raymond.