Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #4

Menyatukan Dua Hati

Terlihat Raymond dan Andin turun ke bawah sungai dari atas jembatan jalan utama. Kebetulan sungainya sedang dangkal. Di tepi kiri dan kanan sungai bisa dilewati.

"Awas, loncat ke bawah."

Raymond meraih tangan Andin untuk turun ke sungai dari atas jembatan. Tidak terlalu sulit.

"Kita coba jalan beberapa puluh meter ke sana, ya, mengamati alur sungai ini. Kuat, nggak, Mbak Andinnya?"

"Kecil segini sama Andinnya, mah, ngenyek banget sih, Mas, ini."

Raymond tidak menjawab. Ia hanya mengatupkan jari telunjuk di tengah bibir.

"Ssssst!"

Ia mendesis seperti itu. Maksudnya, jangan bicara gegabah.

"Maaf, maaf ... lupa pesan Mas semalam." Andin menyadari kesalahan ucapannya barusan.

Mereka berjalan di tepian sungai. Sekali-kali Raymond menggandeng tangan Andin. Cukup lapang dan lebar sungai yang dilewati, tetapi terlihat menyempit di kejauhan sana.

"Mas, sering, ya, melakukan kegiatan seperti ini?"

"Saya dulu kan sering berpindah-pindah lokasi proyek. Dari Pulau Sumatra sampai Pulau Kalimantan pernah dijelajahi. Jadi, sering menerobos sungai dan hutan belukar."

"Punya banyak pengalaman juga ya, Mas. Pasti ada cerita yang serem-serem," lanjut Andin.

Dijawab lagi oleh Raymond, "Iya, dulu waktu tugas di pedalaman Sungai Tulang Bawang, Sumatra. Pernah hampir tenggelam di sungai itu. Bukan hampir lagi, sepertinya ..."

"Seperti bagaimana, Mas?" Andin penasaran.

"Panjang ceritanya, mengerikan kalau mengingat masa itu. Sungainya lebih besar, lebar, dan dalam. Lima kali lipat daripada sungai ini."

"Masak, sih, Mas? Jadi pengen tahu ceritanya."

"Ketemu harimau dan ular besar pernah juga," sambung Raymond.

"Nakut-nakutin saja Mas ini," kata Andin sambil mendekatkan tubuhnya ke Raymond.

"Bilangnya nggak takut?"

"Kalau ketemu ular besar, ya, takutlah. Seandainya ditelan beneran, bagaimana?" Andin takut membayangkannya.

"Ya, nggaklah, kan ada Mas yang jagain Mbak Andin."

Mendengar itu, Andin merasa terlindungi. Sekarang ia berani memeluk pinggang Raymond.

"Bagaimana menurut Mas, sungai ini berbahaya apa nggak?" Andin pengen tahu jawaban Raymond.

"Sejauh ini aman-aman saja, tetapi kita tidak tahu kalau sampai jauh ke hilir sana. Sebaiknya kita balik lagi saja, rasanya sudah cukup. Paling tidak, hari ini sudah ada gambaran seperti apa sungai ini," kata Raymond mengajak Andin pulang.

"Lihat, Mas, banyak ikan di sungai ini. Lihat tuh, Mas!" seru Andin sambil mengibas-ngibaskan sepatunya.

"Hobi mancing, Mbak Andin?"

"Kalau mancing di laut, Andin suka. Dulu kan sering diajak Papa ke Pulau Seribu sambil mancing gitu. Kapan-kapan nanti kita ke sana, ya, Mas, kalau pas lagi cuti. Papa punya kapal yacht pribadi sendiri."

"Luar biasa ayahnya Mbak Andin, ya. Menjadi pengusaha yang sukses."

"Mas juga bisa, seandainya tekun dan rajin. Apa-apa kan dimulai dari hal yang kecil dulu."

"Iya, sih ... Terima kasih motivasinya. Boleh bertanya sesuatu nggak, Mbak?"

"Mau menanyakan apa, Mas?" Andin jadi penasaran sambil memperhatikan butir-butir pasir yang terbawa arus kecil sungai.

"Saya ini karyawan baru, belum lama juga kenal sama Mbak Andin. Kenapa Mbak begitu baik sama saya?"

"Oh, itu toh pertanyaannya. Mau tahu apa pengen tahu banget?" Andin meledek Raymond.

"Mau banget, Mbak." Tanpa tedeng aling-aling, Raymond pengen tahu jawabannya.

"Karena ..." Andin tidak meneruskan, tetapi dilanjutkan juga, "Mas sudah punya pacar?"

Belum sempat dijawab, tiba-tiba sekelompok anak muda sudah berada di atas jembatan jalan.

"Itu Mbak Andin sama Pak Raymond!" seru Olivia.

Disambut riuh, mereka ikut turun bersama ke bawah sungai.

"Sedang apa kalian?" sergah Andin.

"Habis mencari informasi di warung Pak Amat. Tadi kami juga sudah survei sungai ini," jawab Arief.

"Kalian sudah dapat tali tambangnya?" Raymond ingin memastikan.

Marcel menjawab, "Kebetulan yang punya warung di atas ada, Pak. Kita dipinjamkan. Sepertinya cocok dengan yang Bapak maksud."

"Bagus kalau begitu, nanti saya lihat. Jangan lupa nanti sore kita kumpul di depan mes, ya. Bawa semua perlengkapan. Kita akan mengadakan simulasi."

"Siap, Pak! ... Asyik, besok kita jadi berangkat." Astrid tidak bisa membendung kegembiraannya.

Mereka berombongan kembali ke mes, sementara Andin dan Raymond menyambangi warung Pak Amat.

"Kita jajan dulu, yuk, di warung sambil tanya-tanya," ajak Raymond mampir.

"Andin kepengen melihat cara memproses kopi. Sekilas pernah melihat di pondok sebelah warung itu."

"Kita ke sana nanti mumpung masih ada waktu. Jadi pulang ke Jakarta minggu depan?" Sengaja Raymond menanyakan itu. Sepertinya ia tidak berharap Andin pulang.

"Mas mau ikut mengantar Andin, atau sama-sama kita ke Jakarta lagi?" tanya Andin mencoba memancing reaksi Raymond.

Lihat selengkapnya