Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #6

Berhasil Menemukan

Perjalanan kali ini melewati hutan lebat di kiri dan kanan serta tebing tinggi menjulang yang membuat suasana teduh, namun terasa menyeramkan.

Suara monyet ekor panjang semakin nyaring bunyinya, bersahut-sahutan di antara lebatnya pepohonan. Karena jalur mulai menyempit lagi, terpaksa mereka berendam masuk ke dalam sungai lagi sebatas pinggang tingginya ada batu-batu juga yang menghalanginya, tetapi tidak sebesar sebelumnya.

Mereka harus waspada dengan kelebatan hutan yang seolah memayungi badan sungai hingga membuat suasananya menjadi gelap.

"Perhatikan dahan-dahan besar di atas kepala kalian, jangan lengah," perintah Raymond. Mengkhawatirkan kemungkinan ada ular bergelantungan di atas kepala mereka.

"Siapkan parang kalian masing-masing. Astrid, Olivia, jalan di tengah saja," Bambang memperingatkan teman-temannya.

"Seram banget, ya, Mas, tempat ini? Masih berapa jauh lagi?" Andin mulai merasa waswas.

"Itu di depan sudah terang, masih ada waktu satu jam lagi sampai kita bisa menemukannya."

Jalur sungai yang sempit, gelap, dan berhutan lebat sudah terlewati. Sekarang suasananya kembali lapang, tetapi masih diliputi dahan pohon besar yang menjulur ke sungai serta diselingi tebing tinggi yang mengapit badan sungai.

Sudah hampir tiga setengah jam mereka mengarungi sungai ini. Waktu menunjukkan pukul 11.20 siang. Tinggal empat puluh menit lagi batas waktu yang ditentukan.

Raymond mulai gelisah. Sedikit-sedikit ia melihat jam tangan yang terbungkus plastik kedap air. Terlihat kacanya sudah mulai berembun, membuat angka penunjuk waktu hampir tidak terlihat jelas.

"Ada yang mendengar suara gemuruh air, nggak? Coba pasang telinga kalian baik-baik," Marcel mengingatkan teman-temannya.

"Air terjunnya ada di sebelah kiri atau kanan, sih?" Astrid meminta kejelasan.

"Ada di sebelah kiri. Pindah ke sebelah kiri semua, amati baik-baik," Bambang yang menjawab.

Sok tahu sepertinya Bambang ini. Dari mana ia bisa tahu air terjunnya ada di sebelah kiri?

Konsentrasi Raymond terpecah antara melihat tebing di kanan dan kiri, serta mengawasi Andin yang terlihat sudah kelelahan karena berjalan sedikit pincang. Mereka tidak berendam lagi di tengah sungai karena sudah bisa menepi di daratan sungai.

Sementara itu, Bang Ipul dan Udin berjalan ngebut di depan. Sepertinya mereka ingin cepat-cepat menemukan air terjun.

"Dua puluh menit lagi waktu kita habis!" Sekalipun lagi Raymond mengingatkan batas waktu yang disepakati.

Hal itu disambut kekecewaan oleh anak-anak muda yang sudah telanjur basah kuyup. Mereka meminta agar waktunya ditambah.

Arief mewakili suara mereka. "Tanggung, nih, Pak. Sepertinya sudah mau dekat. Jam satu saja kita pulangnya seandainya belum juga ditemukan."

"Iya, Pak. Alangkah kecewanya kami nanti kalau tidak berhasil menemukan," sanggah Olivia.

"Malu, kan, nanti kita pulang tanpa hasil," Bambang menambahkan.

"Iya, Mas. Mereka masih antusias banget. Andin bisa merasakan bagaimana kecewanya mereka nanti bila gagal. Tapi Mas punya wewenang memutuskannya, dilanjut atau tidak."

Arief dan rekan-rekannya, termasuk Andin, masih menyimpan harapan untuk bisa segera menemukan air terjun. Namun bagi Raymond, keselamatan nomor satu dan tidak bisa ditawar.

Dua pemuda, Udin dan Ipul, berjalan semakin jauh di depan meninggalkan rombongan. Nyaris tidak terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba terdengar suara wanita menjerit.

"Tolong...! Tolong...!" Suara itu terdengar lantang. Rupanya Astrid yang berteriak meminta tolong.

Rombongan bergegas berlari ke arah Astrid yang ternyata tertinggal di belakang. Raymond sendiri tidak menyadari hal itu. Tadi Astrid sempat dilewatinya ketika gadis itu sedang duduk membersihkan pasir di dalam sepatunya.

"Ada apa, Astrid? Kamu kenapa?"

Mereka melihat Astrid terduduk pucat pasi sambil menunjuk dahan di atas kepalanya. Rupanya ada ular sebesar lengan bergelantungan di dahan yang menjulur ke tengah, persis di atas kepala Astrid!

"Astaga...! Ada ular besar di dahan itu. Awas!" Marcel kaget bukan kepalang. Terlihat seekor ular sedang melilit dahan dengan kepalanya yang berayun-ayun ke bawah, siap mematuk Astrid! Semua yang melihat tertegun dan tidak berani berbuat apa-apa.

Dengan sigap Raymond mendekap Astrid dan menjauhkannya dari ular yang hampir saja menggigitnya itu.

Bambang terlihat mendekati ular dengan parang terhunus, hendak membunuh ular tersebut.

"Bambang, hati-hati! Ular itu berbahaya, mungkin berbisa," Arief mewanti-wanti.

"Jangan! Jangan dibunuh ular itu! Biarkan saja!" cegah Raymond memperingatkan Bambang agar tidak bertindak sembrono.

Lihat selengkapnya