Saat ini, mereka tengah bergembira. Mereka tidak menyadari bahwa bakal terjadi bencana dahsyat yang akan mengubur mimpi mereka selamanya. Awan gelap menyelimuti dataran hulu sungai, diikuti sambaran petir yang menggelegar bersahut-sahutan.
Sebentar lagi akan turun hujan lebat yang bakal menumpahkan jutaan liter air dan digelontorkan begitu saja. Air akan mengalir deras dari hulu sungai jauh di sana!
Benar saja, tidak menunggu lama, hujan turun begitu derasnya, menyelimuti dan menggenangi seluruh daratan. Sambaran petir terus menyalak, menghujam ke tanah berkali-kali, serta memporak-porandakan tanaman dan pohon di sekitarnya.
Tidak lama kemudian, banjir bandang datang. Air bergerak cepat tanpa terkendali menuju jembatan warung Pak Amat yang berada di bawah base camp, tempat berkumpulnya seluruh karyawan tambang, termasuk anak-anak dari teknik pertambangan yang dipekerjakan di sana.
Saat ini mereka masih berada di air terjun, baru saja merayakan kemenangan atas keberhasilannya. Namun, saatnya mengakhiri sukacita. Raymond, sebagai seorang Safety Officer, merupakan sosok yang paling bertanggung jawab dalam keselamatan dan akan memimpin perjalanan pulang.
"Waktunya sudah habis! Ayo semua berkemas, kita kembali pulang!" Raymond memberikan perintah dengan tegas, sesuai dengan batas waktu yang disepakati bersama. "Sebelum matahari terbenam, harus sudah sampai!"
Olivia, seorang engineer lulusan S-1 universitas swasta ternama yang ikut dalam rombongan ini, mulai mengeluh. Ia merasa waktu begitu cepat berlalu dan belum puas menikmati indahnya air terjun ini.
"Yaah... padahal pengin lebih lama lagi di sini, baru juga sebentar."
Sedangkan Astrid, seorang ahli geologi yang turut serta dalam rombongan, mengusulkan, "Kapan-kapan nanti kita datang lagi ke sini untuk berkemah. Setuju, enggak, kalian?"
Disahut oleh Arief dari bagian eksplorasi, "Setuju banget! Kita ajak teman-teman yang lain."
Raymond mendekati Andin. "Masih sakit? Kita mulai jalan lagi, ya. Masih kuat, kan?"
"Masih kuat, kok, Mas... sudah mendingan. Tapi Andin mulai kedinginan."
"Ditahan saja, ya. Semoga kita cepat sampai," sambil mengucapkan itu, Raymond mengecup kening Andin.
"Mas, sebelum kita pulang, foto berdua, yuk, di depan batu itu. Olivia! Tolong, dong, fotoin." Raymond memberikan ponselnya kepada Olivia, kemudian mereka berdua bergaya di depan batu besar.
Sementara itu, di warung Pak Amat, Maharani, Andy, dan Dewi masih setia menunggu. Berkali-kali mereka menghubungi melalui seluler dan radio, sementara waktu sudah menunjukkan jam dua siang lewat.
Maharani membawahi bagian quality control, Andy juga lulusan S-1 engineer, sedangkan Dewi bekerja sebagai administrasi di kantor. Mereka tidak ikut dalam rombongan mencari keberadaan air terjun dikarenakan ketiganya tidak bisa berenang.
Dewi mulai khawatir. "Bagaimana ini, tidak ada kabar berita dari mereka? Mudah-mudahan, sih, sudah dalam perjalanan pulang."
"Sabar saja, kita tunggu mereka pulang," Maharani mencoba menenangkan diri.
"Break! Break! Arief, bisa monitor? Andy bicara." Andy menghubungi melalui radio untuk memastikan keberadaan mereka. Tidak ada jawaban!
Masih di hulu sungai jauh di sana, jutaan kubik air tumpah dari langit dan berjatuhan. Air semakin tinggi meluap ke daratan karena tidak tertampung lagi! Air merayap deras mengikuti alur sungai, suaranya bergemuruh menerjang apa saja yang ada di depan. Air bah berarak bagaikan tsunami, membawa segala lumpur, kayu, dahan, dan ranting, lalu terus mengalir dengan kecepatan tinggi!
Tidak seorang pun menyadari!
Banjir semakin dekat menuju jembatan tempat warung Pak Amat berada. Suaranya terdengar jelas di telinga Maharani, Dewi, Andy, juga pelanggan warung lainnya.
Suara gemuruh banjir bandang datang! Mereka sontak berlompatan keluar karena ingin mengetahui apa yang terjadi. Semakin tidak terkendali, air bah menerjang daratan sungai. Suara derak puluhan pohon tumbang menggema di sepanjang pinggiran sungai.
Panik bukan kepalang ketiga anak muda itu mendengar suara tersebut. Air sudah melintas di bawah jembatan.
"Dewi, Maharani! Naik ke atas cepat! Lapor sama Ibu Dian dan Pak Budi. Cepat lari ke sana!" Andy berteriak kencang.
Tidak menunggu perintah kedua kalinya, Maharani dan Dewi berlari kencang menuju ke atas sambil terus berteriak-teriak!
"Ibu! Pak Budi! Tolong!"
Teriakan itu mengagetkan semua karyawan. Mereka berlarian menyambut kedua gadis itu, termasuk Ibu Dian juga Pak Budianto.
"Ada apa kalian teriak-teriak begitu?" sergah Ibu Dian sambil berlari memapak keduanya.
Dewi menjawab dengan napas tersengal-sengal, "Itu, Bu! Banjir bandang datang di sungai, di bawah jembatan. Anak-anak masih di sana, Bu! Belum pulang juga!"
"Apa kamu bilang? Pak Budi, lekas turun! Panggil semua anak-anak di mess. Lihat ada apa di bawah sungai!"
Ibu Dian ikut berteriak memerintahkan anak buahnya yang sedang stand by di mess untuk segera turun ke bawah. Berduyun-duyun karyawan yang sedang bersantai turun ke bawah karena ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Banjir! Banjir! Sungai banjir, jembatan roboh!" teriak mereka serempak setelah mengetahui kejadian sebenarnya.