Setelah sekian jam lamanya terombang-ambing sampai menjelang malam hari tiba, pada akhirnya, pada sebuah lembah sungai jauh di hilir, tampak dua sosok manusia tersangkut di akar pohon tepi sungai dalam keadaan terikat pada sebuah balok.
Keduanya tidak sadarkan diri! Terdampar pada sebuah lembah tepi sungai, teronggok begitu saja di bibir sungai setelah lebih dari tiga jam terombang-ambing tidak menentu.
Ternyata Raymond dan Andin!
Raymond sudah mulai sadarkan diri. Bertumpu pada sebuah balok, lebih dari separuh tubuhnya tenggelam. Tas ransel masih disandang di bahunya. Seluruh tubuhnya penuh luka. Ia baru menyadari ternyata Andin masih berada di sampingnya dalam kondisi yang sama, bergelayutan pada sebongkah balok, namun masih belum sadarkan diri.
Seumur-umur belum pernah merasakan ketakutan luar biasa seperti ini. Meredam rasa takutnya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Stelah pulih sepenuhnya tingkat kesadarannya, perlahan mulai beringsut, melepaskan diri dari belitan akar. Menyeret Andin menuju tepian sungai yang lapang, memapahnya ke sebuah cerukan yang tidak digenangi air. Meletakkan Andin di sana dalam keadaan masih berpakaian lengkap. Ransel dan pelampung masih melekat di tubuhnya.
Sungguh kasihan Raymond melihat kondisi Andin saat itu. Terbaring lemah, basah kuyup, dan sekujur tubuhnya penuh luka. Wajahnya pucat pasi. Berharap Andin masih hidup, Raymond merasakan gejolak batin yang begitu hebat setelah menyadari kejadian yang dialami. Terdampar entah di mana, tempat ini terasa menakutkan.
Matahari perlahan mulai terbenam, menyembunyikan diri di bawah batas kaki langit cakrawala. Sebentar lagi hari mulai gelap. Raymond bertekad akan melindungi Andin dengan segala daya upaya yang bisa dilakukannya.
Seperti yang pernah diucapkannya tanpa sadar sebelumnya, di depan teras kamar Andin pada malam sebelumnya, ia akan meminjam sayapnya untuk dapat membawa pulang dengan selamat. Ucapan tanpa sadar yang pernah dilontarkan karena melihat seperti ada pusaran di kelopak mata Andin, kini terjadi sungguhan!
Rupanya ini yang menjadi kegelisahan yang dirasakan sebelumnya setelah Andin memutuskan ikut serta dalam rombongan mencari air terjun tersembunyi.
Tidak ingin berlama-lama merenung apa yang sudah terjadi, Raymond mulai bertindak. Dengan parang yang dibawa di pinggangnya, berusaha mencari sesuatu, setidaknya tempat berteduh yang layak dihuni, tanpa memikirkan bahaya yang mengancam di dalam hutan rimba belantara Bukit Seluma.
Daripada membiarkan Andin tergeletak di ceruk yang dingin dan lembap di tepian sungai, ia mulai mencari batang-batang kayu, dedaunan, dan akar tumbuh-tumbuhan untuk mendirikan rumah pondok darurat seadanya sebelum hari mulai gelap.
Ia bekerja cepat sambil berkali-kali menoleh ke bawah, berkemungkinan melihat Andin telah sadar kembali. Memotong bilah-bilah batang kayu, menancapkannya ke dalam tanah, dan mengikatnya dengan akar pohon, kemudian menutupinya dengan ranting dan dedaunan.
Ternyata Andin telah sadar, terlihat sedang menangis sesenggukan. Raymond segera melompat menghampirinya, langsung memeluk, dan merebahkan kepalanya di bahu. Tanpa terasa, Raymond pun ikut menangis, tidak tahan melihat penderitaan yang dialami oleh Andin.
Andin tidak mengira Raymond masih berada di sisinya. Tidak kuasa menahan haru, ia menangis sejadi-jadinya. Rasa takut begitu hebat yang dirasakannya menjadi sedikit terobati.
"Mas masih ada di sini, jangan takut. Saya berjanji akan mengantar Mbak pulang. Masih ingat, kan, apa yang pernah Mas ucapkan semalam?" sambil mengelus bahu dan rambut Andin.
"Iya, Andin masih ingat. Mas pernah bilang mau pinjam sayap Andin. Kenapa bisa terjadi betulan seperti ini? Di mana kita sekarang? Andin takut, Mas," ucapnya terus menangis di pangkuan Raymond.
"Tidak usah takut, jangan menangis lagi. Saatnya kita bertahan hidup. Kita harus saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Yakin dan percaya kita bisa keluar dari situasi sulit, meskipun nantinya harus melewati penderitaan panjang. Tuhan pasti menolong kita."
Raymond mencoba memberi hiburan, membakar semangat Andin agar tetap tegar dan tabah menghadapi cobaan berat ini. Andin pun bisa membayangkan seperti apa yang akan terjadi nanti. Terdampar di tepian sungai hutan belantara bisa sampai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan lamanya.
"Andin percaya Mas bisa melakukan semuanya, membawa Andin pulang kembali."
"Sekarang pindah ke atas, sudah hampir selesai pondok daruratnya. Nanti kita buat api unggun. Bisa berdiri? Ya ampun, sepertinya ada banyak luka." Raymond merasa iba sekali melihat kondisi Andin saat ini. Berantakan dan penuh luka di sekujur tubuhnya. Seluruh badan Andin menggigil.
Raymond sendiri sebetulnya juga mengalami hal yang sama, tapi tidak dirasakannya. Ia lebih fokus ke Andin daripada dirinya sendiri.
Raymond membopong Andin ke tempat yang lebih aman. Ia akan menempatkannya di pondok yang barusan dibuatnya, tetapi belum memadai betul untuk bisa ditempati.
"Duduk di sini dulu, ya. Saya mau selesaikan pondok ini."
Raymond membongkar isi dalam ranselnya. Semua masih terbungkus plastik kedap air, mengambil salah satu bungkusan berisi satu setel pakaian training kering yang tidak kemasukan air, memang sudah dipersiapkan semalam.
"Pakai kaus dan celana training ini. Lepaskan semua pakaian basah biar tidak kedinginan lagi."
Andin menerima kaus dan celana training dalam keadaan kering pemberian Raymond tersebut, tetapi ia malu terlihat saat mengenakannya.
"Jangan khawatir, saya akan menghadap ke belakang selama berganti."
Raymond langsung membenahi pondok yang belum rampung dibuatnya, membelakangi Andin sementara gadis itu berganti pakaian. Andin melepaskan semua pakaian basah, menggantikannya dengan kaus dan celana kering. Meskipun terlihat kedodoran, pakaian itu mampu menghangatkan tubuhnya.
"Sudah, Mas!"
Raymond masih sibuk membenahi pondok darurat menambahkan beberapa dahan pohon, mengikatnya dengan akar tumbuh-tumbuhan serta tali tambang. Kemudian mencari daun lebar yang kering untuk dibuat alas, juga untuk menutupi bagian atas. Cukup lumayan untuk dipakai berteduh sekaligus menghangatkan badan.
Raymond harus blusukan keluar masuk ke dalam hutan untuk menemukan apa saja, tetapi ia tidak berani terlalu jauh meninggalkan Andin. Sementara itu, Andin mencoba mengobati luka yang dideritanya dengan cairan obat merah yang dibawanya, merasakan perih di sekujur tubuhnya.
Malam telah tiba. Beruntung bulan purnama menampakkan dirinya, mampu membuat hutan di tepi sungai ini tidak tampak gelap gulita sekali.
Pertama kali dalam seumur hidup, mereka akan bermalam di hutan belantara tanpa penerangan apa pun, bakal tidur di dalam rumah pondok jauh dari layak untuk ditempati.
Rumah pondok darurat itu dibuat ala kadarnya berhasil dibuat. Raymond sendiri tidak menyangka bisa melakukan ini semua.