Pagi hari di lembah sungai jauh di hilir, menggantung embun tipis yang jatuh di permukaan daun-daun. Embun itu membentuk bulatan kristal bening berkilau yang disapu cahaya temaram pagi, lalu bergulir ke bawah menyapa lengan seorang gadis hingga membuatnya terbangun setelah sekian lama tertidur lelap.
Cahaya kuning emas pagi hari menerobos sela-sela dedaunan, menerangi pondok yang ditempatinya. Mencoba mencerna apa yang sesungguhnya terjadi. Kenapa dirinya berada di sini?
Baru menyadari sepenuhnya kejadian yang dialaminya, beruntung tidak sendirian. Melihat seonggok tubuh bertelanjang dada terkulai lemas, penuh dengan legam dan luka di sekujur tubuhnya! Bersandar di dinding pondok yang terbuat dari anyaman dahan, ranting, dan dedaunan.
Merasa iba melihatnya, berusaha mencari sesuatu untuk dapat menghangatkan tubuh pria di sampingnya.
Memberanikan diri mencoba keluar dari dalam pondok. Awalnya ragu dan waswas dengan keadaan sekitar yang terasa asing baginya. Perasaan takut menghantuinya, tetapi teringat pesan sosok lelaki yang terkulai lemas di sampingnya harus kuat dan tabah menghadapi cobaan berat ini, serta saling menguatkan.
Saat beranjak keluar dari pondok, disambut kupu-kupu berwarna-warni yang terbang mengitari dirinya. Hal itu membuatnya terkesima. Tidak menyangka mendapat sambutan sehangat ini, hingga membuyarkan rasa takutnya.
Mendapatkan lembaran-lembaran pakaian tergantung di ranting dahan, berayun-ayun ke sana kemari tertiup angin semilir pagi.
Menyadari dirinya saat ini berada di bawah perbukitan lembah anak sungai. Menengok ke kiri dan ke kanan dengan waspada, dikejutkan oleh suara lengkingan puluhan monyet ekor panjang. melompat dari pohon ke dahan, berayun-ayun mengelilingi pondok. Sepertinya mereka keheranan mendapatkan tamu tidak diundang.
Tanpa beralaskan kaki, mencoba mengais barang-barang yang tergeletak dan membongkar isi ransel. Menemukan beberapa bekal makanan, minuman dalam wadah botol plastik, serta obat-obatan. Menjumput salah satunya lalu menegaknya sekali habis, tidak peduli nanti minum apa lagi.
Mendapatkan dua sisa kue donat, melahapnya, dan menyisakan salah satunya. Kemudian masuk ke dalam lagi dengan membawa sebotol plastik minuman dan kue donat yang tinggal satu-satunya. Tidak ada lain lagi yang bisa dimakannya nanti.
Mencoba membangunkan pria itu. "Mas, bangun, Mas. Ini ada makanan dan minuman sedikit."
Suara lengkingan monyet ekor panjang yang tidak henti-hentinya turut membantu membangunkannya.
"O ... di mana kita sekarang?" sedikit linglung, belum sadar sepenuhnya.
"Minum dulu, Mas. Pasti haus."
Membuka tutupnya, lalu menyodorkannya ke mulut Raymond perlahan.
"Biar Mas saja yang menuangkannya sendiri," terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan, Mas. Ini kue donatnya masih ada. Jangan banyak bergerak dulu, sepertinya capek sekali tadi malam."
Andin sumringah melihat Raymond sudah sadar kembali.
"Tidak apa-apa, sudah mendingan sekarang."
"Habiskan kue donatnya, Mas. Tadi Andin menemukan sisa dua, satunya sudah Andin makan tadi."
Andin kemudian mengobati luka di tubuh Raymond dengan cairan antiseptik.
"Aduh ... perih! Pelan-pelan saja," kata Raymond sambil mengenakan kaus kering yang diberikan Andin.
"Mas ... bagaimana dengan nasib Olivia, Astrid, juga Marcel? Bambang, Arief, serta Bang Ipul sama Udin? Apakah mereka masih hidup seperti kita ini?"
Andin mulai berurai air mata lagi membayangkan nasib teman-temannya.
"Kita doakan saja mereka selamat seperti kita."
"Kita sekarang ada di mana, Mas? Apa semakin menjauh dari tempat air terjun itu? Bagaimana caranya kita bisa kembali pulang?" tanya Andin sambil terisak menangis lagi.
"Mas tidak tahu pasti kita berada di mana sekarang. Pastinya jauh sekali. Mbak Andin jangan terus-terusan menangis. Mau tidak mau, kita harus berusaha untuk tetap bertahan hidup sambil menunggu bantuan datang ...."
Belum selesai bicara, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara sebuah helikopter yang samar-samar.
"Mas, dengar itu! Sepertinya ada suara helikopter di atas kita."
Raymond langsung bergegas keluar dan melambai-lambai kaus di tangannya. Andin pun melakukan hal yang sama berharap keduanya terlihat, sambil berteriak-teriak sekerasnya.
"Woi! Woi! Lihat ke mari!" Berkali-kali hal itu dilakukan.
Tapi sepertinya helikopter itu berbalik memutar arah setelah terbang jauh menyisir sungai. Lama-lama, tidak terdengar suaranya lagi.
Harapan bantuan yang sepertinya akan datang menghampiri mereka menjadi sia-sia. Helikopter itu sudah tidak terlihat lagi. Mereka kembali lagi ke pondok dengan wajah kecewa.
"Sepertinya helikopter itu sedang mencari kita, Mas. Tapi kenapa berbalik arah?"
"Mungkin lokasi kita ini di luar jangkauan mereka. Kita tidak tahu pasti seberapa jauh kita terdampar di sini."
"Bagaimana kalau sampai kita tidak bisa ditemukan, Mas?"
Andin mulai menangis lagi membayangkan kengerian menjalani hari-hari di hutan belantara ini. Raymond memeluknya untuk menguatkan.