Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #10

Batas Waktu Akan Berakhir

Sudah memasuki hari keempat, pencarian masih berlangsung. Tim penyelamat dari berbagai unsur yang dilibatkan masih belum menemukan Raymond dan Andin. Batas waktu pencarian tinggal tiga hari lagi.

Membuat gundah keluarga Hermanto. Sampai detik ini, Andin Nabila belum juga ditemukan.

"Bagaimana dengan anak kita, Pa? Apa masih mungkin bisa diketemukan?" tanya Ibu Andin, seolah pasrah dengan keadaan yang menimpa putrinya. Mama Andin berkali-kali jatuh pingsan karena tidak tahan lagi merasakan penderitaan yang dialami Andin, bilamana ia masih hidup di hutan belantara.

"Tante harus tabah. Cassandra yakin Andin masih hidup bersama Raymond. Semalam Cassandra mimpi seperti itu, Tante."

Cassandra, sahabat karib Andin, ikut datang ke lokasi karena bermimpi Andin masih hidup. Dalam mimpinya, Cassandra ikut bersama pasukan komando naik helikopter mencari Andin dan Raymond.

Tidak berapa lama, Cassandra terus meneropong dengan lensa tele. Mendapati Andin dan Raymond sedang melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan di bawah dataran sungai, terus memanggil-manggil nama Cassandra.

"Itu teman saya ada di bawah sungai! Kita bisa turun ke sana, Pak!" Cassandra memohon kepada salah seorang anggota pasukan.

"Tidak bisa, Dik. Kita tidak bisa mendarat di sana, terlalu curam. Bisa-bisa pesawat ini yang akan jatuh," ujar Kapten Pilot yang pesimis bisa mendaratkan pesawatnya.

"Tapi kita harus menolong mereka! Tolong, Pak! Bawa Cassandra ke bawah sungai itu, Pak!" terus memohon.

"Tidak mungkin ke sana, Dik! Terlalu berbahaya. Bapak tidak mau mengambil risiko!"

Kapten Pilot tidak bisa menyanggupi permintaannya. Cassandra menjadi panik, harus bisa menolong Andin!

Pada akhirnya berbuat nekat. Merebut kemudi pesawat dari sang Kapten, mencoba sendiri mendaratkan helikopter di sana, padahal Cassandra tidak pernah mengemudikan pesawat helikopter.

"Pak! Bagaimana ini? Pesawat miring, mau jatuh! Tolong, Pak!" teriak Cassandra sambil berusaha keras menahan kemudi pesawat agar tidak jatuh.

Terlambat! Helikopter itu semakin menukik ke bawah, menabrak pepohonan, lalu jatuh berkeping-keping di daratan sungai. Cassandra menjerit dan terbangun dari mimpi buruk!

"Mbak, bangun! Kenapa Mbak teriak-teriak begitu?" Cassandra dibangunkan oleh Maharani, yang malam itu tidur bersamanya di base camp.

Cassandra gelagapan, lalu terus mengigau, "Andin masih hidup, dia bersama Raymond di tepi sungai sana."

"Istigfar, Mbak," ujar Maharani mencoba menenangkan Cassandra sambil memberikan air hangat.

"Semoga saja mimpimu itu benar, Andin bersama Raymond masih hidup. Tapi bagaimana mereka bisa bertahan hidup di hutan lebat seperti ini?" Mama Andin menangis, tidak mampu membayangkannya.

Hermanto mencoba menguatkan istrinya. "Sabar, Ma. Bapak Hardiman masih berupaya mencari anak kita. Apa pun hasilnya nanti, kita harus mengikhlaskan. Apabila Andin..."

"Jangan diteruskan, Om! Cassandra yakin Raymond akan membawa pulang Andin ke sini!" ujar Cassandra memotong pembicaraan Hermanto.

Lihat selengkapnya