Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #11

Andin Jatuh Sakit

Sesuatu yang dikhawatirkan terjadi pada hari keempat tinggal dalam pondok darurat. Andin jatuh sakit

Membawa Andin dalam kondisi jatuh sakit seperti saat ini tentu tidak akan mungkin. Kondisinya sangat mengkhawatirkan; wajahnya pucat pasi dan seluruh badannya menggigil. Andin juga tidak mau makan. Raymond harus menunggu Andin sembuh untuk mengembalikan staminanya agar mampu mengarungi sungai kembali.

"Mas, Andin mau pulang. Bawa Andin pulang ke rumah. Andin rindu sama Mama, Papa," terdengar suara lirih Andin.

"Tapi Mbak harus sembuh dulu. Tidak mungkin membawa pulang dengan kondisi seperti ini. Habiskan ikan ini," kata Raymond sambil menjumput daging ikan lalu memberikannya kepada Andin.

Namun, Andin tidak bernafsu sama sekali. Sudah beberapa kali daging ikan itu dilepehnya kembali.

"Bilangnya mau diantar pulang. Kalau Mbak tidak mau makan, bagaimana bisa sampai ke rumah nanti?"

Raymond sudah mencoba merambah hutan di sekeliling pondok, tetapi tetap tidak menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Ia hanya menemukan kerimbunan semak belukar dan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, dipenuhi monyet-monyet berekor panjang yang bergelantungan ke sana kemari.

Sebenarnya monyet itu bisa dijadikan alternatif karena daging monyet bisa dimakan. Tapi, berdasarkan pengalamannya di hutan Tulang Bawang, saat melihat seorang teman memotong monyet, rasanya miris. Ketika dikuliti, struktur tulang monyet hampir mirip dengan kerangka manusia, mulai dari kepala sampai kaki. 

Sebenarnya di hutan ini juga ada rusa dan babi yang berkeliaran. Suaranya sering terdengar, apalagi menjelang malam tiba. Bisa saja Raymond memburu rusa untuk dijadikan santapan, tetapi binatang itu terlalu besar akan kerepotan untuk memanggangnya. Lagipula, jika dipanggang tanpa bumbu, seperti apa rasanya?

Raymond bingung memikirkan apa lagi yang bisa diberikan kepada Andin selain ikan nila ini. Selama empat hari di hutan ini, badan Andin sudah mulai terlihat menyusut seperti orang yang sedang menjalani puasa.

Raymond membiarkan Andin terbaring di pondok dan menyelimutinya dengan pakaian seadanya. Andin hanya mengenakan satu setel pakaian, yaitu kemeja blus dan celana jins. Tidak ada pakaian lainnya lagi. Beruntung, Raymond membawa satu setel celana dan kaus training, serta satu celana pendek. Selebihnya, satu kemeja dan celana jins sudah dikenakannya saat berangkat.

"Kenapa tidak pernah turun hujan, Mas? Hari ini panas sekali rasanya mau tidur juga tidak bisa, lihat pakain Andin basah kuyup begini."

"Biasanya kalau panas begini nanti malam akan turun hujan."

Panas terik di luar mengharuskan mereka beristirahat di dalam pondok, meskipun terasa gerah sampai pakaian yang dikenakan basah kuyup. Betul-betul menyiksa!

Raymond mengipasi Andin dengan ranting dedaunan, memberinya minum dari tetesan akar pohon yang dikumpulkan dalam botol plastik. Botol itu hanya terisi setengahnya saja untuk berbagi bersama. 

Malam kelima akan segera tiba. Raymond memperkuat pertahanan di luar pondok agar tidak bisa ditembus oleh binatang buas, mengingat kondisi Andin sangat mengkhawatirkan. Dahan-dahan besar ditancapkan di sekeliling pondok.

Suasana di dalam pondok nyaris gelap gulita. Samar-samar, Raymond masih bisa melihat Andin terbaring lemas. Meronda sepanjang malam merupakan kegiatan rutin yang dilakukan Raymond untuk menjaga keselamatan Andin. Segala sesuatu bisa terjadi di malam hari dalam hutan belukar ini. 

Kebanyakan penghuni hutan akan melakukan aktivitasnya pada malam hari untuk berburu mencari makanan. Raymond menyadari bahwa dirinya dan Andin merupakan santapan empuk bagi mereka!

Ia mengusap dahi Andin; tubuhnya masih terasa panas. Obat demam yang dibawa tinggal satu-satunya. 

Benar saja perkiraan Raymond hujan akan segera turun diawali suara geledek mulai terdengar, mengglegar memecahkan kesunyian di malam hari kilatan cahaya petir menghujam ke tanah persis di depan pondok. Andin menjerit histeris.

"Ya ampun, Mas bagaimana seandainya petir itu mengenai pondok kita, nyaris saja?" pucat pasi membayangkannya.

Terus menyalak tiada henti-hentinya menjadikan terang benderang sekeliling pondok disusul hujan deras datang begitu tiba-tiba disetai angin kencang menderu-nderu. Mengkhwatirkan pondok akan roboh.

"Mas, mau keluar dulu memperbaiki pondok sepertinya akan roboh."

"Hati-hati, Mas. Andin takut," Andin berpegangan kuat pada tiang pondok sudah mulai bergoyang-goyang.

Raymond berusaha sekerasnya mengencangkan ikatan tali, menancapkan lebih dalam tonggak penyangga pondok.   Di bawah guyuran hujan lebat disertai ledakan petir terus mengglegar menenggelamkan suara pekikkan histeris Andin dari dalam pondok.

Pondok dengan atap terbuat dari dedaunan tidak mampu menahan guyuran hujan deras menerobos masuk ke dalam pondok. Bagaikan ditumpahkan dari talang air.

Beruntung hujan telah reda hampir saja memporakporandakan rumah pondok darurat membuat berantakan isi dalam pondok. Terpaksa membenahinya lagi agar dapat digunakan untuk tidur kembali.

"Sudah aman, Mbak. Bisa tidur lagi."

Tidak mungkin bisa tidur lagi dalam keadaan basah-basahan seperti ini mengginggil kedinginan.

Sama sekali tidak terbayangkan tinggal bersama Andin di dalam pondok hutan belantara ini. Terasa mengiris sanubari, tidak seharusnya berada di sini. Ada perasaan bimbang di hatinya apakah mampu mengeluarkan Andin dari tempat ini.

Dirinya bukan Superman atau pahlawan super yang dengan mudah bisa melakukan apa saja. Merasa dirinya hanyalah manusia biasa memiliki keterbatasan dan rasa takut jika membayangkan apa yang bakal terjadi ke depannya nanti.

Raymond mulai menangis, tidak mampu menahan gejolak batin yang dirasakannya. Isakannya terdengar oleh Andin.

"Mas, ada apa? Kenapa menangis?" tanya Andin.

Andin bangkit sembari memegang kedua tangan Raymond.

"Andin bisa merasakan perasaan Mas saat ini. Harus menjaga Andin sepanjang malam, sampai bisa membawa pulang nantinya, meskipun terbersit keraguan di hati Mas," ucap Andin ikut menangis.

"Bukankah kita sudah berjanji untuk menguatkan satu sama lain, Mas, harus yakin kita akan tetap bersama, apa pun yang terjadi. Gelang kita kenakan ini, menjadi saksi.

Lihat selengkapnya