Setelah melewati lima hari lamanya, belum ada tanda-tanda Andin dan Raymond ditemukan. Ibu Dian sebagai Site Manager, merasa sangat bersalah atas kejadian yang melibatkan beberapa anak buahnya. Apalagi, salah satunya merupakan putri dari pemilik perusahaan ini.
Bapak Hermanto pernah memberi pesan agar dapat menjaga putrinya dengan sebaik-baiknya, menitipkan langsung kepada Ibu Dian. Hal itu disampaikan oleh Bapak Hermanto sendiri pada saat mendapat briefing sebelum keberangkatannya.
Merasa tidak mampu menjaga amanat, ia berniat mengundurkan diri. Keinginan ini disampaikan kepada Pak Budianto.
"Pak Budi, sepertinya saya harus mengajukan surat pengunduran diri kepada Bapak Hermanto. Ini merupakan pertanggungjawaban saya sebagai Site Manager karena tidak mampu menjalankan tugas seperti yang diamanatkan beliau."
Pak Budi memberikan tanggapan, "Saya pun juga akan melakukannya, Bu. Akan tetapi, rasanya tidak elok dalam situasi sekarang ini. Seakan-akan kita lari dari tanggung jawab. Bukankah Pak Raymond dan Andin belum ditemukan?"
"Karena itu saya merasa tersiksa. Tertekan batin saya memikirkan keselamatan mereka berdua. Sebagai pimpinan tertinggi di sini, tidak seharusnya saya mengizinkan mereka berangkat pada waktu itu."
"Saya pun juga merasakan demikian, Bu. Sebaiknya kita tunggu perkembangan selanjutnya. Ibu masih memiliki tanggung jawab kepada seluruh karyawan yang ada di sini. Mereka pasti tidak mengharapkan Ibu meninggalkan tempat ini."
"Tapi ... saya merasa Bapak Hermanto tidak mengharapkan saya lagi di sini."
"Jangan berprasangka seperti itu, Bu. Beliau memang sangat terpukul sekali dengan kejadian ini, apalagi menyangkut putri kesayangannya. Musibah ... siapa yang tahu, Bu. Tidak ada seorang pun yang mengharapkannya."
"Sebaiknya, kita harus bagaimana, Pak Budi?"
"Jalankan tugas dan kewajiban Ibu seperti biasanya. Serahkan segala sesuatunya kepada pihak yang berwenang untuk dapat segera menemukan Pak Raymond dan Andin. Kita hanya bisa mendoakan saja, Bu."
"Terima kasih, Pak Budi. Semoga kita bisa menjalani hari-hari yang berat ini."
"Semoga saja, Bu."
Kabar belum ditemukannya kedua korban salah satunya putri pemilik perusahaan menjadi pembicaraan hangat seluruh masyarakat Desa Bukit Seluma. Para wartawan cetak maupun televisi pun ikut memberitakannya.
Banyak juga yang mengirimkan tanda berkabung karena sebagian masyarakat mengira kedua korban tidak mungkin diselamatkan dalam keadaan hidup. Kemungkinan mereka sudah tenggelam di dasar sungai, atau barangkali terseret sampai jauh ke hilir.
Beberapa prasangka dan kemungkinan bisa terjadi atas nasib kedua korban, menjadi topik pembicaraan di masyarakat luas. Simpati dan doa mereka panjatkan bersama, berharap keduanya dapat segera diselamatkan dalam kondisi apa pun.
Waktu tersisa dua hari lagi. Bila tidak ditemukan juga, seluruh jajaran petugas keselamatan akan meninggalkan tempat ini. Tidak ada harapan lagi korban akan ditemukan!
"Bagaimana nasib anak kita, Pa? Bisakah Papa berbicara dengan Bapak Hardiman supaya waktunya ditambah sampai anak kita bisa ditemukan? Meskipun dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Setidaknya kita bisa membawa pulang jasad anak kita, Pa," ungkap keputusasaan Ibu Andin akan nasib putrinya.