Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #13

Bersiap Menantang Maut

Raymond merasa bahagia sekali melihat perkembangan Andin, sudah mulai makan banyak. Rencana untuk kembali pulang akan segera terwujud.

Namun tidak hari ini, atau besok pagi. Raymond merasa Andin belum benar-benar fit staminanya. Harus makan lebih banyak lagi, agar tubuhnya lebih kuat dalam menghadapi rintangan nanti.

Karena perjalanan akan dilaluinya nanti, bukan hanya sekadar menantang. Akan tetapi lebih dari itu. Sama saja dengan menantang maut!

Berharap pada hari ketujuh, lusa, Andin sudah benar-benar siap secara fisik dan mental, karena tidak ada pilihan lain.

Tidak akan ada lagi yang mencarinya. Semua Tim Penyelamat akan kembali ke markasnya masing-masing.

Lebih-lebih lagi, penghuni hutan ini sudah lama mengincar keduanya, untuk dijadikan santapan malam mereka!

Tanda-tandanya sudah ada, baru saja Raymond menemukan jejak telapak kaki harimau di tepi sungai ketika akan beranjak mandi sore.

Jejak itu terlihat masih baru. Tadi pagi belum terlihat! Sepertinya raja hutan itu berjalan melewati sungai ketika mereka berdua sedang berburu ayam hutan. Bisa jadi seperti itu.

Tidak jadi mandi, mengkhawatirkan keselamatan Andin. Manakala melihat Andin sedang memunguti pakaian kering terjemur di dahan pohon, cepat berlari ke arah Andin, menariknya untuk segera masuk ke dalam pondok.

"Ada apa, Mas, sepertinya baru saja melihat sesuatu yang menakutkan?"

"Jangan keras-keras bicaranya, cepat sembunyi di pondok."

Setelah masuk ke dalam pondok, buru-buru menutupnya, Raymond terlihat tegang. Sebilah parang sudah digenggamnya.

"Barusan, Mas melihat jejak kaki harimau di tepi sungai, kemungkinan harimau itu masih ada di sekitaran sini. Jangan keluar dulu, diam dalam pondok saja."

Andin jadi ikut tegang juga, raut wajah ketakutan mulai terlihat.

"Mas, lihat di mana? Dekat bumbungan ikan itu?"

Raymond hanya mengangguk, sambil mengawasi situasi di luar pondok.

"Tadi pagi, Andin tidak melihat apa-apa. Masak ada beneran, sih, Mas?" Merasa tidak yakin.

"Mungkin harimau itu lewat ketika kita masih berada dalam hutan." Raymond berasumsi seperti itu.

"Yang Mas lihat tadi, jejak kaki harimau beneran?" Masih penasaran.

"Tidak salah lagi. Jejak kakinya sebesar telapak tangan kita dikembangkan," sambil memperagakan telapak tangan diletakkan di tanah.

"Kukunya yang tajam menancap dalam ke tanah, seperti itu yang Mas lihat tadi, barusan."

"Andin jadi pengen lihat sendiri. Seumur-umur belum pernah melihat jejak kaki harimau aslinya."

"Jangan sekarang ... harimau itu masih mengintai kita!"

Andin langsung mendekap,

"Mas, jangan nakut-nakutin Andin." Dengan nada memelas.

"Kalau mendengar suara riuh rendah muncul seketika dari sejumlah binatang di hutan, menandakan bahwa harimau itu ada di sekitarnya. Sedang berburu mangsa."

"Tapi, tadi Andin tidak mendengar apa-apa, Mas."

"Bisa juga datang dari monyet ekor panjang. Mereka akan mengeluarkan bunyi suara berbeda untuk memperingatkan yang lain akan kehadiran harimau. Nantinya akan direspons oleh sekawan rusa dengan menyalak terus-menerus."

"Wah, ternyata di antara sesama satwa bisa saling kompak begitu, ya, Mas."

"Ya, begitulah karakter masing-masing satwa di dalam hutan ini. Kita tidak mendengar itu semua, mungkin tidak ada kelompok monyet atau rusa berada di sekitar sini."

"Ngeri juga ya, Mas, ternyata di hutan Bukit Seluma ini masih ada harimau berkeliaran."

"Harimau sumatera dalam bahasa Latinnya Panthera tigris sumatrae. Populasinya tidak lebih dari 400 ekor yang masih bertahan hidup hingga saat ini. Termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah."

"Kalau yang hidup di hutan ini ada berapa ekor, ya, Mas?" Seperti anak baru menginjak dewasa layaknya, selalu ingin tahu banyak.

"Ada berapa, ya ...? Nanti kita tanya sama yang lewat tadi di sungai."

"Mas ini, orang serius juga, masih sempat bercanda saja. Sudahlah, nggak jadi nanya." Ngambek.

Perbincangan yang lucu ini dapat mengurangi ketegangan di antara keduanya.

Andin kembali serius.

Lihat selengkapnya