Suasana dalam base camp Bukit Seluma saat ini berbeda dari biasanya. Beberapa anggota tim penyelamat sudah mulai berkemas untuk kembali ke markasnya masing-masing. Begitu juga para relawan dari berbagai organisasi pencinta alam yang tadinya dengan sukarela ikut membantu pencarian, sebagian besar sudah kembali ke base camp.
Hiruk-pikuk suasana menjelang malam terakhir, begitu banyak orang berkumpul baik dari penduduk sekitar maupun warga dari berbagai desa dan kota lainnya. Sebagian masih setia mengikuti jalannya operasi penyelamatan sampai pada hari terakhir nanti.
Namun, sebagian besar lainnya memilih pulang kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka mendengar desas-desus bahwasanya kecil kemungkinan korban dapat diselamatkan. Tidak ada seseorang bisa bertahan sekian lama di dalam sungai yang dalam, berarus kuat, dingin, dan lembap selama berhari-hari.
Belum lagi ancaman satwa liar banyak berkeliaran di sekitaran tepi sungai, maupun datang dari dalam sungai itu sendiri. Apalagi salah satu korban belum diketemukan adalah seorang wanita.
Tenda-tenda darurat milik warga maupun dari tim penyelamat sebagian besar sudah dibongkar, dikemas untuk dibawa kembali pulang. Para pedagang dadakan menjual makanan, minuman, rokok, dan sebagainya ikut meramaikan suasana juga sudah mulai berkurang.
Anggota tim medis dan sebagian besar kendaraan mobil ambulans juga sudah dipulangkan, hanya menyisakan dua mobil ambulans saja. Wartawan dari berbagai media juga sudah mulai berkurang. Tidak ada lagi liputan langsung dari lokasi kejadian.
Kabar terbaru besok tidak akan ada lagi kegiatan tim penyelamat akan menyusuri sungai atau menyisir melalui jalan darat. Semua perlengkapan dan fasilitas digunakan sebelumnya sudah mulai dikumpulkan, dirapikan untuk dibawa kembali.
Armada kendaraan truk logistik akan mengangkut barang-barang telah selesai digunakan oleh para tim anggota penyelamat telah siap berjejer di tepian jalan menuju jembatan.
Suasana pada malam hari sebelumnya terang benderang dari beberapa lampu sorot dipasang di setiap sudut sudah mulai berbenah, sebagian sudah diangkut ke dalam truk.
Besok, dipastikan tidak akan seramai seperti sebelumnya karena banyak yang meninggalkan lokasi ini, karena tidak ada lagi tontonan yang menarik untuk dilihat.
Sebagian besar lainnya juga sudah kelelahah, karena selama enam hari berturut-turut telah begitu banyak tenaga dikeluarkan guna membantu operasi penyelamatan.
Lain halnya dengan keluarga Hermanto, seluruh staf, karyawan, maupun kerabat dari korban belum diketemukan. Masih setia berkumpul di base camp Bukit Seluma.
Armada berat pesawat helikopter Puma tadinya berjumlah empat unit, tiga pesawat sudah diterbangkan kembali ke markasnya. Rencana semula akan menerbangkan keseluruhan pesawat untuk menyusuri sungai pada hari terakhir besok dibatalkan! Hanya satu pesawat helikopter saja yang akan diterbangkan besok.
Merupakan kebijaksanaan dari pusat pengendali operasional dikarenakan berbagai faktor, efisiensi, dan biaya. Seluruh pasukan komando ikut dilibatkan sudah ditarik kembali ke markasnya, menyisakan lima anggota untuk melakukan pencarian menggunakan helikopter di hari terakhir besok.
Kembali Hermanto bersama Kolonel Hardiman berdiskusi dalam satu ruangan.
"Sesuai kebijaksanaan dari pusat, operasi penyelamatan besok akan mengalami perubahan. Hanya satu pesawat helikopter saja akan kita gunakan," penjelasan dari Kolonel Hardiman.
"Lalu bagaimana dengan opsi perpanjangan waktu yang pernah saya ajukan, Pak?"
"Kami sudah berdiskusi dengan pimpinan pusat, saran diberikan agar Bapak meninjau ulang kembali permohonan perpanjangan waktu."
Berhenti sejenak. "Bilamana itu dilakukan, akan banyak biaya yang akan Bapak keluarkan nantinya, itu juga tidak dapat diprediksi sampai kapan korban diketemukan. Sampai saat ini belum ada laporan tanda-tanda kehidupan dari kedua korban."
"Artinya, Bapak akan mengakhiri operasi penyelamatan secara keseluruhan pada lusa, besok?"
"Itu sudah sesuai dengan Standard Operating Procedure, (SOP). Sudah diatur dalam Undang-Undang. Andaikan Bapak masih tetap berniat mengajukan perpanjangan waktu, akan kami sampaikan kembali."
"Menurut pengetahuan dan pengalaman Bapak sendiri, apakah ada kemungkinan anak saya masih hidup dan dapat diselamatkan?"
"Saya tidak mengenal karyawan yang baru Bapak rekrut, Saudara Raymond, dan juga putri Bapak. Apakah saat ini mereka terpisah satu sama lain, atau bersama berada dalam suatu tempat," menghela napas.
"Kabarnya Saudara Raymond ahli dalam hal keselamatan pertambangan. Mungkin hal itu akan membantu apabila memang mereka masih hidup, berada dalam satu tempat. Tapi itu semua hanya perkiraan saja. Kita tidak tahu pasti bagaimana nasib keduanya, di mana mereka terdampar."
Perbincangan kali ini tidak menghasilkan solusi juga kesepakatan bersama. Semua masih dalam perkiraan dan pertimbangan. Namun hal yang pasti, tidak akan ada lagi pencarian besar-besaran melibatkan berbagai pihak untuk dapat menemukan putri kesayangannya.
Mungkin bisa mulai mempersiapkan diri untuk mengikhlaskan, seandainya memang tidak ada harapan untuk ditemukan. Berat memang menanggung ini semua. Siapa saja tidak akan menginginkan dan mau menerima salah satu dari keluarga, kerabat kita, terkubur di suatu tempat yang tidak diketahui rimbanya.
Rasa duka mendalam dirasakan oleh semua orang yang mengenal kedua korban, terlebih keluarga dan sahabat dekatnya.
Dalam pondok hutan belantara saat ini sedang berkemas dua sosok manusia telah menghabiskan waktu selama lima malam tanpa harapan dan kepastian. Pada malam terakhir ini mereka telah bersepakat.
"Andaikan salah satu dari kita tidak mampu meneruskan perjalanan nanti, Mas berharap salah satunya tetap memiliki keyakinan untuk dapat terus bertahan hidup, meskipun tanpa ada pendamping di samping kita."
"Jangan sampai itu terjadi, kita harus tetap bersama, Mas, tidak ada yang dapat memisahkan kita. Mas harus berjanji untuk tetap menjaga Andin, Andin juga akan berbuat serupa."
Masih terngiang jelas ketika keduanya bersama di depan teras, saling menyatukan hati untuk dapat tetap bersama. Kedua gelang dikenakan menjadi saksi bisu keteguhan di antara keduanya.
"Mas masih ingat waktu kita di depan teras dulu, berjanji akan menjaga Andin setiap saat? Sejak saat itu Andin merasa Mas merupakan satu-satunya pria yang dapat menjadi pendamping Andin kelak."