Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #17

Operasi Naga

Malam kedelapan telah dilalui, hari telah menjelang pagi. Segala perlengkapan untuk berangkat pagi ini telah dipersiapkan sebelumnya, sama seperti keberangkatan yang gagal dua hari lalu.

Raymond bisa dibilang telah sembuh dari cedera di betis, meskipun masih dibalut dengan kain, tetapi cara berjalannya sudah normal kembali. Tidak lagi terasa perih.

"Kali ini kita harus lebih berhati-hati lagi, jangan sampai terjadi seperti yang lalu," Raymond mewanti-wanti.

"Semalam, juga tadi pagi, Andin sudah makan ikan banyak. Mas saja yang kelihatannya kurang nafsu makan, memang kenapa?"

"Banyak pikiran semalam, ada rasa khawatir perjalanan kedua ini akan gagal lagi."

"Kenapa harus begitu? Biasanya Mas lebih semangat daripada Andin, apa karena akibat cedera kemarin? Membuat Mas kurang percaya diri."

"Tidak tahu juga, mungkin hanya perasaan saya saja. Tidak usah menjadi beban. Mas sudah siap mental mengantar Mbak pulang."

"Nah, begitu dong, harus optimistis. Kali ini jangan sampai kita kembali ke pondok lagi, banyak membuang waktu. Semisal ada halangan, kita buat pondok baru saja lagi."

"Ide bagus! Kok Mbak semakin cemerlang pikirannya?"

Pagi ini perjalanan pulang diulang kembali, sama seperti yang pertama dulu. Sudah sampai pada tanggul yang menjadi masalah.

"Kita konsentrasi bagaimana bisa melewati tanggul ini. Apa tidak bisa dilewati dari pinggir tebing itu, Mas?"

"Tebing itu terlalu terjal, licin. Sudah begitu, sulit kita menginjakkan kaki. Mau tidak mau, kita harus meraih puing bertumpuk ini agar bisa sampai ke atas.

"Andin coba menggapainya dulu. Mas jagain Andin di bawah."

Kali ini Andin yang mencoba pertama kali, merangkak sambil berpegangan pada tonjolan tajam. Raymond perlahan menyusul dari bawah menjaga bahu Andin supaya tidak terjatuh.

"Naik sekali lagi, pegang kuat-kuat dahan itu. Tinggal sedikit lagi sampai di atas."

"Licin sekali, Mas. Tahan Andin, satu lompatan sudah sampai ke puncak. Ups, berhasil, Mas!"

"Bagus! Berbaring saja di atasnya, Mas menyusul!"

"Hati-hati, Mas! Lewat di samping Andin saja, pegang tangan Andin, tinggal selangkah lagi!"

Sekali melompat, Raymond berhasil menaklukkannya. Keduanya tertelungkup di atas tanggul, takut terjatuh ke bawah lagi. Sekarang tinggal memikirkan turun di balik tanggul ini. Kalau berhasil aman, di depan sudah terlihat sungai utama.

"Saya yang akan turun duluan, nanti Mbak menyusul, Mas tahan dari bawah."

Bagaikan cecak merayap, Raymond menuruni tanggul. Berhasil sampai ke bawah, lebih mudah turunnya daripada menaikinya. Andin kemudian meniru cara Raymond turun, merangkak seperti cecak. Raymond waspada di bawah, takut Andin meluncur jatuh karena licin.

Keduanya berhasil melewati tanggul itu. Tanggul tidak seberapa tinggi, tetapi memang menyusahkan. Pernah mencederai Raymond.

"Itu di depan sudah kelihatan sungai utama yang kita cari. Bagaimana kita bisa berbelok ke sini ya, Mas, pada saat terbawa arus dulu?"

"Mungkin tumpukan puing-puing itu sekarang menjadi tanggul yang membelokkan kita sampai jauh ke dalam."

"Jangan-jangan Olivia, Astrid, dan lainnya mengalami seperti kita. Andaikan kita bisa menemukan..."

"Bisa saja kita menemukannya, syukur-syukur bisa semuanya kita temukan dalam perjalanan nanti."

"Kita belok ke kiri atau ke kanan untuk bisa sampai di base camp kembali?"

"Arusnya ada di sebelah kanan kita, jadi kita ambil ke kiri. Nanti kita akan melawan arus, semoga saja arusnya tidak deras."

Mereka sekarang sudah berada di jalur utama sungai, tempat sungai ini telah menyeret ketujuh anak muda ketika terjadi air bah. Saat ini akan diarungi kembali oleh Raymond dan Andin.

"Saatnya kita melakukan perjalanan panjang. Mas tidak tahu seberapa jauh kita nanti."

"Seandainya belum sampai-sampai juga, tidak ada salahnya kita bermalam di pinggiran sungai ini, Mas."

"Semoga saja tidak sampai seperti itu."

Lihat selengkapnya