Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #18

Menjemput Korban

Menjelang siang hari ini, setelah melakukan koordinasi dan strategi penjemputan korban, tim penyelamat segera diberangkatkan menuju titik koordinat yang telah ditentukan.

Dua buah tandu dimasukkan ke dalam helikopter. Tali untuk rappling terjun dari pesawat helikopter menggunakan tali sudah terpasang.

Lima orang anggota dari Pasukan Komando telah bersiap dengan senjata laras panjang di bahu masing-masing. Sementara kelima anggota Basarnas mempersiapkan proses evakuasi setelah berhasil dijemput nantinya.

Kolonel Hardiman akan memimpin langsung jalannya operasi yang diberi nama sandi "Operasi Naga". Ia akan ikut bersama kelima Pasukan Komando, bersama lima anggota pasukannya yang telah menaiki helikopter.

Mesin pesawat dinyalakan. Baling-baling pesawat mulai berputar, semakin lama semakin kencang, menerbangkan debu ke udara. Sesaat kemudian pesawat heli mulai terangkat, berputar sembilan puluh derajat, membuat pohon-pohon di sekitar bergoyang kencang, kemudian melesat menuju sungai.

Masyarakat dan karyawan berkumpul di sekitar jembatan, melambaikan tangan melepas kepergian tim penyelamat dengan harapan menemukan korban.

Sementara itu, orang tua dan kerabat korban menunggu dengan cemas, namun terbersit rasa sukacita setelah mengetahui kabar bahwasanya lokasi korban telah diketemukan melalui sebuah citra foto yang diabadikan melalui udara.

Apakah kedua korban masih hidup? Tidak dapat dipastikan sebelum nantinya melihat secara jelas kondisi kedua korban setelah ditemukan, kemudian dibawa ke base camp. Akan menjadi berita besar bilamana operasi ini berhasil menemukan kedua korban tersisa, yang selama ini ditunggu oleh masyarakat luas, seluruh karyawan, juga oleh keluarga dan kerabat korban.

Helikopter terus menyusuri sungai menuju titik koordinat sesuai lokasi pengambilan gambar. Akan memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai di sana, dan sekarang sudah berada di atas lokasi air terjun.

Semua anggota di dalam pesawat mulai siaga mengawasi setiap jengkal daratan sungai yang dilaluinya, mulai terbang rendah. Hiruk-pikuk monyet berekor panjang, berjumpalitan dari pohon ke pohon, melarikan diri!

Tidak lama lagi akan sampai di batu besar. Seluruh anggota di dalam pesawat heli tidak menyadarinya bahwasanya ada sesuatu di sana!

Di bawah terlihat air sungai mulai meninggi, sudah mencapai bibir batu besar, di mana Andin dan Raymond masih belum sadarkan diri, terkapar di landasan permukaan batu. Hal itu akan menghanyutkan kembali kedua insan tidak berdaya itu.

Darah segar terus mengalir dari sela-sela baluran luka Raymond, menarik perhatian dua predator buaya besar yang mengendus mangsanya!

Turun bersama dari kedua tebing di kiri dan kanan sungai, menghampiri dua sosok manusia yang tergeletak tidak berdaya! Tinggal sejengkal lagi, kedua makhluk besar melata itu mencapai bibir batu.

Kedua kaki depan dengan cakar tajam sudah mencengkeram, menapak bebatuan, merayap perlahan, siap melumat tubuh Andin dan Raymond

Terlihat oleh Pasukan Komando!

"Lihat, Komandan! Di bawah batu besar itu! Sepertinya dua sosok manusia akan diterkam buaya dari kiri dan kanan!"

Di saat situasi genting, Pasukan Komando beraksi, melepaskan tembakan yang diarahkan ke buaya besar itu! Helikopter terbang rendah mengitari batu besar sambil terus melepaskan tembakan ke arah kedua buaya besar itu tanpa ampun!

Tembakan senapan kaliber berat itu dilesakkan oleh beberapa Pasukan Komando dari atas helikopter, datang tepat pada waktunya!

Setelah berhasil menewaskan kedua predator itu, empat anggota Pasukan Komando segera terjun ke bawah mengamankan situasi.

Dua buah tandu diturunkan segera. Kedua korban dibaringkan di atas tandu, kemudian ditarik masuk ke dalam helikopter bersama empat anggota pasukan, langsung diterbangkan menuju base camp Bukit Seluma!

Saat itu juga air sungai menenggelamkan batu besar, menyeret kedua buaya besar itu, hanyut terbawa arus deras sampai jauh ke hilir.

Kolonel Hardiman memberitakan melalui radio, diterima oleh anggota lainnya yang telah menunggu di base camp.

"Bagaimana, korban telah berhasil ditemukan? Persiapkan evakuasi segera!"

Pesawat helikopter Puma yang membawa dua korban, Andin dan Raymond, telah sampai. Pesawat berputar sekali, kemudian turun di landasan tanah lapang.

Di sana telah menunggu dua mobil ambulans, kemudian korban dilarikan ke posko darurat. Dilakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum diangkut dengan helikopter Puma kembali, dibawa ke Rumah Sakit Bengkulu saat itu juga!

Bergegas keluarga, kerabat korban, dan staf perusahaan menyusul menggunakan mobil dinas proyek. Tidak ketinggalan kelima korban lainnya ikut serta: Olivia, Astrid, Bambang, serta Marcel dan Arief.

Di rumah sakit, Andin dan Raymond dimasukkan ke dalam ruang Instalasi Gawat Darurat. Keduanya diberi infus, diberikan pertolongan pernapasan oksigen. Ibu Andin, Ibu Dian, Ibu Murni, Hermanto, Budianto, beserta Cassandra dan kelima rekannya hanya bisa melihat di balik sekat kaca transparan. Tangis haru memenuhi ruangan.

Kolonel Hardiman berada dalam satu ruangan, menyalami Hermanto.

"Saya kira putri Bapak akan baik-baik saja. Saya turut mendoakan secepatnya akan pulih kembali."

"Terima kasih, Pak Hardiman. Nantinya saya akan mengundang Bapak untuk merayakan kesembuhan anak saya."

Bergantian Kolonel Hardiman menyalami Ibu Andin, Ibu Murni, dan yang lainnya sebelum berpamitan.

Lihat selengkapnya