Rumah Pondok Darurat

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #20

Bersatu Dalam Bahtera

Raymond akhirnya datang juga ke rumah Andin. Kedatangan Raymond disambut kedua orang tua Andin.

"Bagaimana, Nak Raymond, betah bekerja di Jambi?" sapa Mama Andin.

"Begitulah Tante, namanya juga bekerja di proyek, harus dijalani dengan ikhlas."

"Proyek di Bukit Seluma tidak dilanjutkan lagi, kita pindahkan ke selatan Bengkulu. Andaikan Raymond ingin bergabung lagi, pintu terbuka lebar kapan saja mau."

"Terima kasih banyak, Om. Saya hanya akan menyusahkan saja nantinya."

"Tidak usah dirisaukan kejadian masa lalu, kami berdua sudah menerima dengan lapang dada cobaan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa."

"Iya Nak Raymond, Tante sama Om merasa berutang budi."

"Semua karena Dik Andin, semangat dan kegigihannya untuk terus dapat bertahan hidup dapat mengubah segalanya."

"Ya sudah, bawa Nak Raymond ke kamarnya. Jangan lupa nanti kita makan malam bersama."

Sementara Andin dan Raymond menuju kamar atas, Hermanto dan istrinya berbincang-bincang.

"Pa, sepertinya anak kita sudah jatuh hati dengan Raymond, apa kita jadikan saja sebaiknya? Lagian anak kita sudah cukup dewasa untuk membina rumah tangga. Keduanya sudah pernah tinggal lama di dalam rumah pondok," saran Mama Andin.

"Papa setuju saja, Raymond sudah menunjukkan sebagai sosok lelaki sejati, rela mengorbankan nyawanya untuk keselamatan anak kita."

"Nanti malam kita bicarakan dengan anak kita ya, Pa," pungkas Mama Andin.

Raymond sudah berada di kamar yang akan ditempatinya malam nanti.

"Wah, kamarnya bagus sekali, Dik, setara bintang lima, tidak seperti di pondok kita dulu."

"Tapi biar bagaimana pun, pondok teramat sederhana itu menyimpan sejuta kenangan di antara kita berdua, Mas. Andaikan bisa dibawa kemari, Andin mau meletakkan di taman samping rumah ini. Bagaimana kalau Mas buatkan lagi untuk Andin? Sama persis seperti aslinya. Please... buatin, ya."

"Boleh juga ide itu. Adik kok, semakin..."

Dipotong Andin, "Semakin apa, Mas?"

"Semakin menggemaskan saja."

"Iiih, Mas ini." Mencubit manja.

Keduanya berpelukan, saling menautkan kedua bibir dengan penuh perasaan, dibalut rasa cinta kasih yang mendalam. Serasa tidak ingin terpisahkan di antara keduanya.

"Mas mau kan, mendampingi Andin selamanya?"

"Andaikan Tuhan mengizinkan, Mas akan melamar Adik."

Lihat selengkapnya