Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #1

TANAH SEBERANG DAN AIR MATA YANG TERTINGGAL

Aroma asin air laut yang pekat dan bau amis ikan yang menyengat telah menjadi bagian dari setiap hembusan napas Joko Sadikin selama bertahun-tahun. Bagi seorang nelayan tulen sepertinya, laut bukan sekadar hamparan air yang luas, melainkan urat nadi tempat kehidupan berdenyut. Setiap fajar belum menyingsing, kulitnya yang legam sudah akrab dengan hantaman ombak dan dinginnya angin malam. Namun, beberapa bulan terakhir ini, laut yang biasanya royal tiba-tiba berubah menjadi asing dan tidak lagi ramah. Kejamnya laut kali ini bukan karena amukan badai atau gelombang pasang, melainkan karena selembar kertas regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.

Kebijakan baru yang membatasi penangkapan ikan skala besar menghantam telak para nelayan kecil. Bagi Joko yang hanya bermodalkan perahu kayu tua dengan mesin jaring yang kerap terbatuk-batuk, aturan itu seperti tali yang perlahan mencekik lehernya sendiri. Menjaring ikan dari pagi hingga petang tidak lagi mampu menghasilkan rupiah yang cukup untuk sekadar mengisi perut keluarga besarnya. Laut tempatnya menggantungkan hidup kini terasa menyempit, menyisakan ruang gerak yang teramat sesak.

Di rumah petak mereka yang sederhana dan berlantai semen dingin, sang istri, Raden Ratna Putri, selalu menyambut kepulangannya dengan senyum tegar yang dipaksakan. Namun, Joko bukanlah pria bodoh. Ia bisa membaca guratan cemas yang tersembunyi di balik mata indah istrinya, seorang wanita keturunan bangsawan Surabaya yang rela menanggalkan segala kenyamanan demi hidup bersamanya. Beban di pundak mereka terasa semakin berat jika mengingat keempat buah hati mereka yang sedang tumbuh besar: Raden Hana Putri, Samsul Sadikin, Raden Rana Putri, dan si kecil yang masih rapuh, Raden Rani Putri.

"Pemerintah makin ketat, Ratna," keluh Joko pada suatu malam yang sunyi. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kasar, penuh dengan kapalan dan bekas luka sayatan senar pancing. "Nelayan kecil seperti kita ini seperti digilas tanpa ampun oleh mesin-mesin besar. Kalau begini terus, anak-anak tidak akan bisa melanjutkan sekolah. Mau jadi apa mereka nanti?"

Ratna bergeser mendekat, mengusap bahu suaminya yang tampak kian membungkuk oleh beban hidup dengan gerakan lembut yang menenangkan. "Gusti Allah pasti menolong, Pak. Pasti ada jalan lain di luar laut, asal kita mau mencari dan melangkah."

Sejak malam yang penuh rintihan itu, Joko resmi menggantung jaringnya. Ia mengubur dalam-dalam identitasnya sebagai pelaut. Demi menyambung hidup dan memastikan dapur tetap mengepul, ia melakoni pekerjaan apa saja tanpa mengenal rasa malu. Ia memeras keringat menjadi kuli cetak batu bata di bawah terik matahari yang membakar ubun-ubun, memulung besi-besi tua di tempat pembuangan akhir dengan punggung yang dipaksa membungkuk sepanjang hari, hingga berjalan berkilo-kilometer menjajakan kerupuk keliling kampung. Tragisnya, setiap lembar rupiah yang ia hasilkan dengan susah payah sering kali langsung habis tak bersisa hanya untuk menebus beberapa genggam beras di pasar.

Titik balik yang mengubah garis takdir keluarga mereka akhirnya datang di suatu sore yang basah oleh gerimis. Di sebuah warung kopi pinggiran, Joko tanpa sengaja bertemu dengan seorang kawan lamanya, seorang perwira Angkatan Laut yang tengah melakukan kunjungan dinas ke daerah mereka.

Lihat selengkapnya