Tanah Riau yang gersang dan bersuhu panas menyengat menuntut tebusan keringat yang jauh lebih banyak dari perkiraan semula. Sadar sepenuhnya bahwa upah bulanan dari perusahaan kelapa sawit swasta tempatnya bekerja sebagai buruh harian tidak akan pernah cukup untuk mengejar ketertinggalan ekonomi, Joko Sadikin dipaksa memutar otak lebih keras. Di tengah pemukiman transmigrasi yang serba terbatas ini, ia tahu kelalaian adalah musuh utama. Lahan kosong seluas satu hektare pemberian pemerintah yang terletak di belakang rumah panggung mereka tidak boleh dibiarkan telantar begitu saja hingga bertransformasi menjadi sarang ilalang dan semak belukar.
Maka, dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis setelah pulang bekerja dari perkebunan sawit korporasi, Joko mulai mengayunkan cangkulnya. Di bawah langit sore Riau yang perlahan meredup, ia membalikkan bongkahan tanah merah yang keras. Pilihan komoditasnya jatuh pada tanaman cabai dan pohon jeruk. Baginya, cabai adalah komoditas harian yang perputarannya cepat dan selalu dicari oleh ibu-ibu di pasar. Sementara itu, pohon jeruk diproyeksikannya sebagai investasi jangka panjang yang kelak buahnya bisa dipanen dalam jumlah besar untuk dijual ke pasar induk desa.
"Biar lambat asal selamat, Buk," ujar Joko kepada istrinya pada suatu sore yang gerimis. Ia menyeka keringat deras di dahinya menggunakan punggung lengan, sembari memandang takzim pada tunas-tunas cabai hijau yang mulai menyembul dari balik tanah. "Kalau cabai ini berhasil panen raya, kita bisa punya simpanan uang tunai untuk pegangan."
Ratna, yang sedang duduk menganyam tikar pandan di selasar rumah papan mereka, menghentikan jemarinya sejenak lalu melempar senyum teduh. "Iya, Pak. Yang penting anak-anak bisa makan cukup dan teratur dulu. Beras di pasar senin harganya makin melambung tinggi saja sejak minggu lalu karena jalanan hancur."
Berkat ketekunan Joko yang luar biasa, dibantu oleh tenaga tanggung dari Samsul, ladang kecil di belakang rumah itu perlahan mulai menampakkan hasil. Kehidupan keluarga transmigran yang semula terasa menjepit dan mencekik, berangsur-angsur menemukan ritme yang sedikit lebih stabil. Meskipun demikian, roda perekonomian di desa transmigrasi tersebut secara umum masih merangkak tertatih-tatih.
Di tengah perjuangan beradaptasi dengan alam Sumatra yang keras, kabar gembira sekaligus mendebarkan datang beberapa bulan kemudian. Ratna mendapati dirinya kembali mengandung. Itu akan menjadi anak kelima mereka. Di satu sisi, sebagai seorang kepala keluarga yang religius, Joko merasa sangat bersyukur atas rezeki bernyawa yang dititipkan Tuhan ke rahim istrinya. Namun di sisi lain, bayangan kelam tentang biaya persalinan yang mahal serta pemenuhan kebutuhan bayi di daerah pelosok yang terisolasi sempat menggelayuti malam-malam sepinya.