Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #3

TUNAS KECERDASAN DI TANAH HARAPAN

Kehadiran Ahmad Sadikin di tengah keluarga membawa warna baru yang jauh lebih cerah dan hangat di dalam rumah panggung papan milik Joko. Tangisan nyaring dan tawa renyah bayi laki-laki itu seolah menjadi penawar lelah yang paling mujarab bagi seluruh penghuni rumah setelah seharian dihantam kerasnya kehidupan transmigrasi. Ahmad tumbuh menjadi bayi yang sehat dan menggemaskan. Ia memiliki sepasang mata bulat yang jernih memancarkan binar rasa ingin tahu, serta pipi sintal kemerahan yang selalu mengundang gemas siapa saja yang memandangnya.

Ketiga kakaknya yaitu Hana, Samsul, dan Rana sangat memanjakan adik bungsu mereka ini. Setiap kali melangkah pulang dari sekolah atau usai membantu membalik tanah di ladang, mereka selalu berebut untuk sekadar menggendong, menimang, atau mengajak Ahmad kecil bercanda hingga tertawa terkekeh-kekeh. Kehidupan keluarga Joko kini mulai bergulir normal, teratur, dan dipenuhi kedamaian layaknya sebuah keluarga utuh yang harmonis.

Setiap pagi, bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit dan kabut tebal masih menyelimuti pepohonan sawit, Joko sudah bersiap dengan bungkusan bekal sederhananya untuk berangkat bekerja. Sore hari, ia baru melangkah pulang dengan baju yang basah kuyup dan bau keringat yang pekat. Bahkan, tak jarang ia harus mengambil lembur hingga larut malam jika musim panen raya sedang tiba di perusahaan tempatnya mengabdi.

Kerja keras tanpa batas yang ditanam Joko bertahun-tahun lalu akhirnya mulai menampakkan hasil yang nyata. Kebun sawit seluas dua hektare pemberian pemerintah yang dulu dirawatnya dengan sisa-sisa tenaga, kini sudah mulai berbuah pasir. Lambat laun, pohon-pohon itu menghasilkan tandan buah segar dalam jumlah melimpah yang siap dipanen. Truk-truk besar milik pengepul mulai masuk membelah jalanan desa mereka yang perlahan mengeras. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama melewati masa-masa paceklik yang mencekik, Joko bisa memegang uang tunai dalam jumlah besar dari hasil keringat di atas tanahnya sendiri. Ekonomi keluarga mereka perlahan namun pasti merangkak naik ke arah yang jauh lebih baik.

Perubahan besar itu rupanya tidak hanya terjadi di rumah panggung Joko, melainkan bergaung di seluruh penjuru desa transmigrasi. Gelombang warga pendatang baru dari berbagai kota di tanah Jawa kian banyak berdatangan. Rumah-rumah papan berarsitektur baru didirikan di sepanjang jalan, dan hutan-hutan sekunder yang dulunya angker mulai dibersihkan secara gotong royong menjadi ladang-ladang produktif. Keadaan desa yang beberapa tahun lalu sepi, mencekam, dan terisolasi, kini perlahan berubah menjadi pemukiman yang ramai dan dinamis.

Roda perekonomian yang dulu tersendat-sendat, sekarang mulai berputar dengan lancar. Beberapa warga setempat yang jeli melihat peluang bisnis mulai membuka warung sembako kecil-kecilan di depan rumah mereka. Keberadaan warung-warung ini sangat membantu, karena warga tidak perlu lagi menunggu pasar mingguan yang melelahkan hanya untuk membeli sebungkus garam atau minyak goreng. Ada sebagian warga pula yang memanfaatkan kubangan air alami dan lahan basah di sekitar pekarangan untuk membuat kolam budidaya ikan air tawar seperti lele dan nila. Desa transmigrasi itu kini benar-benar telah hidup dan mandiri. Lima tahun pun berlalu dengan amat cepat.

Ahmad Sadikin bukan lagi bayi mungil yang harus digendong ke mana-mana. Ia telah bertransformasi menjadi anak kecil yang sangat aktif, lincah, dan memiliki rasa ingin tahu yang teramat besar terhadap segala hal yang ada di sekitarnya. Berbeda dengan anak-anak sebayanya yang hanya suka bermain tanah, memanjat pohon, atau bermain petak umpet hingga magrib, Ahmad kecil lebih sering menghabiskan waktunya dengan duduk diam memperhatikan cara kerja benda-benda mekanis di dalam rumah. Ia selalu memiliki ide-ide kreatif yang tak terduga oleh nalar orang dewasa.

Lihat selengkapnya