Kecerdasan alami serta ide-ide kreatif yang senantiasa meletup dari benak Ahmad Sadikin tidak hanya berhasil membuat kedua orang tuanya takjub setengah mati, tetapi juga menjadikannya sebagai sosok yang sangat populer di kalangan anak-anak desa transmigrasi. Di mata teman-teman sebayanya, Ahmad adalah "si otak jenius" yang karismatik. Ia selalu memiliki seribu satu cara ajaib untuk mengubah benda-benda sederhana di sekitar mereka menjadi sebuah permainan baru yang seru dan menantang.
Sehari-hari, setelah matahari tidak lagi terlalu terik membakar kulit dan hawa panas Riau mulai sedikit melunak, Ahmad dan teman-temannya sering kali berkumpul di bawah rindangnya deretan pohon kelapa di dekat batas pemukiman. Angin sepoi-sepoi yang bertiup lembut dari sela-sela pelepah daun kelapa seolah menjadi saksi bisu bagaimana jemari mungil anak-anak itu sibuk berkreasi. Di bawah komando dan arahan langsung dari Ahmad, daun-daun kelapa tua yang jatuh berserakan atau janur-janur hijau yang sengaja dipetik seketika disulap menjadi berbagai macam benda unik.
"Lihat, punyaku sudah jadi dan berputar paling kencang!" seru Ahmad sambil berlari riang membawa sebuah kincir angin dari janur yang berputar hebat ditiup angin sore.
Anak-anak yang lain pun tidak mau kalah. Dengan bimbingan telaten dari Ahmad yang bertindak layaknya seorang guru kecil, mereka belajar membuat terompet dari gulungan daun yang bisa ditiup dengan suara nyaring, keris-kerisan untuk bermain perang-perangan, ular-ularan yang ekornya bisa meliuk-liuk, hingga belajar keterampilan menganyam ketupat kosong. Suasana di bawah rindangnya pohon kelapa itu selalu riuh rendah oleh gelak tawa polos. Kehadiran Ahmad membuat masa kecil anak-anak keluarga transmigran di pelosok Riau itu jauh dari kata membosankan, meskipun mereka hidup tanpa mainan mahal buatan pabrik dari kota.
Namun, bermain tentu ada batasnya. Setiap kali matahari mulai menggelincir ke arah barat menjauhi puncaknya, rutinitas lain yang lebih sakral telah menunggu mereka. Pak Joko selalu datang tepat waktu untuk menjemput Ahmad, menggandeng erat tangan mungil anaknya untuk berjalan beriringan menuju mushola desa. Jarak dari rumah panggung mereka ke mushola tersebut memang terbilang agak jauh, mereka harus melewati jalanan setapak tanah merah yang sunyi dan dikelilingi oleh rapatnya tanaman kebun sawit.