Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #5

RUMAH ALLAH DAN TANGAN-TANGAN KECIL

Keputusan berani Pak Joko untuk mewakafkan sebidang tanah miliknya segera membuahkan hasil yang berlipat ganda. Setelah diadakan serangkaian rapat darurat yang dipimpin langsung oleh Ketua RT dan Ketua RW, kabar mengenai rencana pembangunan mushola baru di atas tanah wakaf tersebut menyebar luas laksana angin buritan ke seluruh pelosok desa. Semangat kekeluargaan khas masyarakat transmigran yang senasib sepenanggungan seketika berkobar. Sumbangan demi sumbangan, baik dalam skala kecil maupun besar, mulai mengalir tanpa putus dari segala penjuru.

Ada warga yang menyumbangkan beberapa sak semen dengan sukarela, ada yang mengirimkan balok-balok kayu meranti hasil tebangan ladang mereka, hingga sumbangan berupa uang tunai dari para pemilik warung sembako yang usahanya mulai menanjak maju. Ketika material bangunan dirasa sudah mencukupi batas minimal, hari bersejarah yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba. Pembangunan mushola dimulai secara swadaya melalui sistem gotong royong yang murni. Setiap kali akhir pekan tiba atau saat hari libur kerja di perkebunan sawit, suasana tanah kosong di samping rumah panggung Pak Joko seketika berubah menjadi riuh rendah.

Para bapak dan pemuda desa berkumpul sejak pagi buta dengan membawa peralatan masing-masing; mulai dari cangkul, gergaji, untaian tali, hingga palu besi. Mereka membagi tugas dengan sangat rapi; ada kelompok yang bertugas menggali tanah untuk fondasi batu kali, ada yang bertugas mendirikan tiang-tiang kayu utama penyangga bangunan, hingga tim yang memanjat kerangka untuk memasang atap seng. Sementara itu, kaum ibu tidak mau kalah ambil bagian. Dipimpin langsung oleh Ibu Ratna, mereka sibuk luar biasa di dapur umum darurat, menyediakan bergelas-gelas kopi hitam hangat, teh manis yang kental, serta sepiring penuh pisang goreng garing dan rebusan ubi jalar untuk membakar semangat para pekerja yang mandi keringat.

Di tengah hiruk-pikuk orang dewasa yang sibuk bekerja itu, terseliplah sosok mungil Ahmad Sadikin. Bocah lelaki berusia lima tahun itu sama sekali tidak mau ketinggalan momen penting ini. Dengan langkah lincah dan kaki telanjangnya, ia mondar-mandir di area pembangunan dengan wajah yang kerap belepotan debu semen putih.

"Ahmad, jangan dekat-dekat sebelah situ, Nak! Nanti kakimu bisa kena paku berkarat!" seru Ibu Ratna memperingatkan dengan nada cemas dari kejauhan beranda dapur.

Lihat selengkapnya