Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #6

GEMA SUARA DAN CAHAYA LAYAR TANCAP

Seiring dengan bertambahnya usia, aktivitas Ahmad Sadikin di mushola baru yang berdiri kokoh di samping rumahnya tidak lagi sebatas membersihkan lantai keramik atau bermain di pelatarannya yang luas. Rasa ingin tahu yang besar, kepekaan batin, serta kedekatannya yang intim dengan rumah ibadah itu perlahan menuntunnya pada sebuah keinginan baru yang mulia: ia ingin belajar mengumandangkan azan. Bagi Ahmad kecil, panggilan salat adalah suara paling indah yang bisa menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.

Setiap hari, di sela-sela waktu senggangnya usai membantu orang tua atau sepulang bermain, Ahmad mulai belajar melantunkan kalimat-kalimat suci tersebut. Dibimbing dengan penuh kesabaran oleh imam mushola yang sudah sepuh, dan terkadang dipantau langsung oleh Pak Joko di rumah, Ahmad melatih vokal kecilnya sedikit demi sedikit. Ia menjalani proses belajar yang melelahkan itu dengan penuh semangat, giat, dan tanpa mengeluh. Ia belajar cara mengatur napas agar tidak terputus di tengah kalimat panjang, membenarkan makhrajul huruf agar pelafalannya fasih, hingga mencoba mengalunkan cengkok nada yang pas di telinga.

Kerja keras bocah ulet itu akhirnya membuahkan hasil yang manis. Hanya dalam waktu satu bulan, Ahmad telah lancar dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengumandangkan azan. Suaranya yang melengking jernih khas anak-anak terdengar begitu merdu, bersih, dan bergetar menyentuh hati. Atas izin dari pengurus mushola, tugas Ahmad kini bertambah satu tingkat. Setiap kali waktu magrib tiba, gilirannyalah yang berdiri tegak di depan mikrofon tua untuk memanggil warga desa beribadah.

Tugas mengumandangkan azan magrib ini menjadi tantangan tersendiri bagi Ahmad. Setiap menjelang sore hari, teman-teman sebaya Ahmad sudah berkumpul memenuhi halaman mushola. Seperti biasa, mereka bermain, berteriak riang, dan berlari ke sana kemari menikmati permainan kejar-tangkapan atau adu kelereng di atas tanah merah. Riuhnya suara anak-anak yang asyik bermain itu sering kali memekakkan telinga dan memecah konsentrasi.

Di tengah kegaduhan yang luar biasa itu, Ahmad harus ekstra jeli dan memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan sayup-sayup suara azan dari masjid besar yang letaknya berada di pusat desa, agak jauh dari mushola mereka. Suara dari masjid besar itulah yang menjadi panduan utama Ahmad bahwa waktu magrib telah resmi masuk di wilayah transmigrasi mereka. Begitu telinganya yang tajam menangkap suara muazin dari kejauhan, Ahmad akan langsung menghentikan permainannya seketika, mengajak teman-temannya menyudahi permainan, lalu melangkah mantap masuk ke dalam mushola untuk mengambil air wudhu dan bersiap mengumandangkan azan magribnya.

Lihat selengkapnya