Bagi warga desa transmigrasi di pelosok Riau yang terisolasi itu, acara nonton bareng layar tancap malam ini bukan sekadar tontonan biasa untuk melepas penat. Ini adalah hiburan termewah, sebuah keajaiban visual yang sangat jarang singgah ke tempat tinggal mereka. Pada masa-masa awal transmigrasi tersebut, belum ada satu pun warga di desa yang memiliki pesawat televisi di dalam rumah mereka. TV adalah barang elektronik yang teramat langka, dianggap mewah, dan harganya melambung tinggi jauh di luar jangkauan kocek para petani kelapa sawit yang baru merintis nasib. Maka tak heran jika lapangan desa malam ini mendadak penuh sesak laksana lautan manusia. Seluruh warga desa, mulai dari tetua adat yang dihormati hingga bayi balita yang digendong ibunya, berantusias menyemut menjadi satu di depan kain putih besar tersebut. Mereka semua tampak terhipnotis oleh binar gambar bergerak yang membelah kegelapan malam Sumatra.
Setelah hampir dua jam larut dalam kemeriahan arena pasar malam dan takjub menonton gulungan film kerajaan yang seru, Pak Joko memutuskan bahwa sudah saatnya mereka sekeluarga untuk melangkah pulang. Suasana malam menunjukkan malam yang kian larut, dan anak-anaknya sudah mulai berulang kali mengucek mata menahan kantuk yang berat.
Sebagai bekal pengganjal perut sekaligus teman setia di sepanjang jalan kaki menuju rumah, Ibu Ratna menyempatkan diri membeli sebungkus besar kacang rebus yang masih mengepulkan uap hangat dari panci penjual. Aroma gurihnya yang khas seketika menjadi penghibur tersendiri di tengah dinginnya angin malam yang mulai berembus menusuk kulit.