Waktu terus merambat maju tanpa bisa ditahan di atas tanah transmigrasi Riau. Dua tahun berselang dengan cepat sejak malam pasar malam yang meriah dan penuh keajaiban layar tancap itu. Ahmad Sadikin kini telah genap berusia tujuh tahun. Tubuh mungilnya kini tampak jauh lebih tegap, tinggi, dan menyiratkan ketangkasan fisik yang matang. Tahun ini menjadi sebuah babak baru yang teramat penting dalam garis hidupnya, karena Ahmad secara resmi mulai mengenyam bangku persekolahan di kelas satu Sekolah Dasar negeri setempat.
Seiring dengan status barunya sebagai seorang murid, urutan aktivitas harian Ahmad kini menjadi semakin beragam, padat, namun tetap teratur dengan rapi. Pagi-pagi sekali, saat kabut fajar masih tebal mendekap bumi Lancang Kuning, ia sudah rapi dengan seragam merah-putihnya, melangkah penuh semangat menuju sekolah bersama kakak-kakaknya. Pulang menjelang siang hari, ia selalu membiasakan diri untuk tidur siang sejenak di atas kasur kapuk guna memulihkan stamina fisiknya yang terkuras. Sore harinya, halaman luas di depan mushola wakaf keluarga tetap menjadi arena bermain wajib yang tak boleh dilewatkan. Begitu semburat langit mulai meredup jingga menjelang magrib, Ahmad sudah bersiap dengan pakaian kokonya di depan mikrofon, melantunkan azan sucinya dengan suara yang kian merdu membelah kesunyian desa.
Namun, dari semua hari yang berganti dalam seminggu, hari Minggu adalah hari yang paling dinanti-nantikan dengan dada berdebar riang oleh Ahmad dan teman-teman sebayanya. Setiap hari Minggu pagi, ketika tugas sekolah diliburkan, mereka memiliki agenda rutin yang tak pernah terlewatkan: melakukan petualangan kecil pergi ke pasar minggu yang terletak di desa tetangga sebelah. Tujuan utama mereka sangat sederhana namun mewah bagi ukuran anak pelosok, yaitu bermain sekaligus memburu kuliner favorit mereka sepanjang masa: martabak manis.
Jarak antar desa transmigrasi pada masa itu terbilang cukup jauh dan menantang. Ahmad dan kawan-kawannya harus menempuh waktu hampir satu jam perjalanan dengan hanya berjalan kaki, membelah jalanan setapak tanah merah yang dikelilingi oleh rapat dan rimbunnya hamparan kebun kelapa sawit yang sepi. Namun, jarak satu jam berjalan kaki itu tidak pernah terasa menjemukan atau melelahkan bagi bocah-bocah lincah tersebut.