Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #10

FAJAR SYAWAL DAN KEMEGAHAN DANAU RAJA

Tiga minggu berlalu begitu cepat tanpa terasa, dilewati dengan serangkaian petualangan memancing di parit sawit dan kegiatan tadarus malam yang syahdu di dalam mushola. Akhirnya, hari yang paling dinantikan oleh seluruh penduduk pun tiba: hari terakhir di bulan suci Ramadan. Suasana di desa transmigrasi Riau mendadak berubah menjadi sangat sibuk sekaligus diselimuti rasa haru yang mendalam. Dari dapur-dapur rumah panggung warga, aroma wangi dari rebusan ketupat janur dan semerbak bumbu rendang daging yang pekat mulai menyeruak ke udara bebas, berbaur serasi dengan kesibukan kolektif masyarakat dalam menyambut hari kemenangan yang fitri.

Selepas ibadah salat isya berjemaah ditunaikan, atmosfer di dalam bangunan mushola kayu itu seketika bergetar hebat oleh gaung spiritual. Para bapak, pemuda, dan ibu-ibu warga desa bersimpuh bersama di atas tikar pandan, menyatukan suara mengumandangkan gema takbir melalui corong pengeras suara tua yang bunyinya melesat, membelah sunyi dan pekatnya malam di pelosok bumi Lancang Kuning.

"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd."

Ahmad Sadikin dan teman-teman sebayanya tidak tinggal diam menyaksikan keriuhan dari dalam mushola. Di area halaman luar, mereka telah menyiapkan belasan obor tradisional yang dibuat sendiri dari potongan bilah bambu murni, diisi minyak tanah, dan disumbat menggunakan kain perca bekas sebagai sumbunya. Begitu sumbu-sumbu obor itu disulut dengan korek api, jilatan api seketika berkobar hebat, menepis kepekatan malam yang absolut.

Lihat selengkapnya