Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #12

ERA BARU DAN PENDARAN CAHAYA DIESEL

Waktu melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya, bergulir tanpa pernah bisa ditahan oleh siapa pun. Enam tahun penuh dinamika telah berlalu di atas tanah transmigrasi Riau, membawa gelombang perubahan besar pada lanskap alam perkebunan sawit serta manusia-manusia di dalamnya. Ahmad Sadikin yang dahulu adalah bocah cilik penemu senter besi rusak, kini telah resmi menamatkan masa Sekolah Dasarnya. Ia tumbuh bertransformasi menjadi seorang remaja tanggung yang cekatan dan baru saja menapakkan kakinya di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Seiring dengan langkah kakinya memasuki jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi dan formal, dunia sosial Ahmad ikut meluas secara signifikan. Kegiatan hariannya kini menjadi semakin padat, menuntut manajemen waktu yang disiplin. Teman-teman sebayanya pun bukan lagi sekedar anak-anak dari lingkungan RT di sekitar rumah papannya, melainkan sudah meluas lintas sektoral hingga ke desa-desa tetangga yang ia temui di lingkungan sekolah barunya.

Konsekuensinya, jadwal bermain Ahmad kini mulai berkurang secara drastis. Tiada lagi hari-hari santai penuh waktu luang untuk sekadar pergi memancing seharian di parit sawit atau duduk berlama-lama membuat mainan dari jalinan janur kelapa. Pagi-pagi sekali saat kabut fajar masih tebal membungkus jalanan, ia sudah harus bersiap mengayuh sepeda tua atau berjalan kaki menempuh jarak ratusan meter menuju sekolah, dan baru tiba kembali di rumah ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang. Waktu istirahat fisiknya pun hanya tersedia sejenak, karena sore harinya telah diisi dengan agenda belajar kelompok bersama teman-teman barunya guna menyelesaikan tumpukan tugas sekolah yang kian rumit.

Meskipun kesibukan barunya sebagai seorang pelajar SMP sangat menyita waktu dan energi, Ahmad tidak pernah sekalipun melupakan akar spiritual yang telah membentuk jiwanya. Begitu langit di ufuk barat mulai meredup abu-abu dan semburat warna jingga perlahan menghilang sepenuhnya menjelang waktu magrib, Ahmad tetap konsisten mengambil bagian sebagai petugas muazin di mushola papan samping rumahnya. Suara vokal kecilnya yang kini mulai mengalami fase perubahan menjadi pecah dan ngebas khas remaja pria, justru terdengar semakin lantang, bulat, dan berwibawa saat memanggil warga desa untuk bersujud menyembah Sang Pencipta.

Lihat selengkapnya