Waktu terus bergulir maju tanpa kompromi, mengikis hari demi hari seperti air yang menetes di atas batu. Setelah melewati masa-masa penuh warna, prestasi, dan derap langkah Paskibraka di kelas dua, lembaran kalender baru kini membawa Ahmad Sadikin ke tingkat akhir masa remaja awalnya. Ia telah resmi menduduki bangku kelas tiga SMP. Memasuki fase krusial ini, atmosfer di lingkungan sekolah mendadak berubah total secara drastis. Ketegangan samar yang pekat mulai menyelimuti lorong-lorong kelas dan ruang guru.
Ahmad sangat menyadari bahwa gerbang kelulusan dan perpisahan sudah berada persis di depan mata. Di masa-masa penentuan ini, ia tidak lagi memiliki kemewahan untuk bersantai atau sekadar berleha-leha. Fokus utamanya kini terkunci rapat pada satu tujuan besar yang mutlak: mempersiapkan serta melatih kapasitas dirinya sedini mungkin demi menghadapi Ujian Nasional, sebuah ujian sakral yang menjadi penentu utama kelulusan sekaligus arah masa depannya.
Setiap harinya, roda kehidupan Ahmad berputar dinamis pada poros yang sama: belajar, belajar, dan belajar. Lembar-lembar buku kumpulan soal ujian dari tahun-tahun lalu yang kertasnya mulai menguning kini telah menjelma menjadi menu sarapan pagi dan makan malam wajibnya. Buku catatan rumus miliknya penuh sesak dengan guratan tinta hitam, berisi ringkasan-ringkasan materi yang ia bedah sendiri secara mandiri. Roda waktu terasa berputar begitu cepat, mengikis habis tanpa sisa waktu luang yang ia miliki.
Tidak ada lagi ruang atau kesempatan untuk sekadar duduk bermain di bawah pohon kelapa atau memancing ikan betok di parit sawit seperti ketika ia masih duduk di bangku kelas satu SD dahulu. Dunia masa kecilnya yang dahulu dipenuhi oleh tawa riang permainan luar ruangan, kini telah bermutasi sepenuhnya menjadi sebuah ruang kamar yang sunyi, ditemani oleh tumpukan buku-buku paket tebal dan bau khas kertas.