Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #16

PUTIH-ABU-ABU DAN JALAN YANG MEMENCAR

Hari yang mendebarkan sekaligus menentukan kelanjutan masa depan itu akhirnya tiba juga. Halaman utama sekolah mendadak dipenuhi oleh riuh rendah ratusan siswa kelas tiga yang berdiri tegang, menanti pembagian selembar kertas pengumuman resmi dari pihak panitia ujian. Sorak-sorai kebahagiaan dan tangis haru seketika pecah membelah langit sore saat papan pengumuman besar menunjukkan hasil yang sangat memuaskan: Ahmad Sadikin dan seluruh teman-teman seperjuangannya dinyatakan lulus seratus persen dalam Ujian Nasional dengan torehan nilai yang sangat membanggakan.

Alih-alih merayakan kelulusan bersejarah itu dengan cara berhura-hura, melakukan konvoi liar, atau mencoret-coret kain seragam menggunakan cat semprot warna-warni seperti tren remaja di perkotaan, Ahmad justru menunjukkan kelasnya sebagai remaja yang matang. Ia memimpin teman-teman satu gengnya untuk melakukan hal yang jauh lebih mulia dan bermanfaat. Sebagai wujud rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta, Ahmad mengko'ordinasikan gerakan mengumpulkan seragam sekolah putih-biru milik mereka yang masih layak pakai. Baju-baju itu kemudian dicuci bersih, dilipat rapi, lalu disumbangkan secara langsung kepada adik-adik kelas atau anak-anak kurang mampu di sekitar desa yang sangat membutuhkan. Bagi keluarga transmigran di pelosok desa, bantuan seragam bekas yang masih dalam kondisi bagus teramat berarti untuk menghemat pengeluaran biaya sekolah yang kian mencekik.

Kehangatan dari momen kelulusan itu berlanjut hingga malam hari tiba. Ahmad dan geng bermain masa kecilnya mengadakan acara bakar ayam bersama di halaman samping rumah panggungnya. Di bawah kepulan asap putih beraroma gurihnya panggangan bumbu kecap dan temaram sinar lampu luar, tawa mereka akhirnya pecah berderai, mengenang kembali masa-masa konyol saat mereka dikejar anjing di kebun sawit atau saat joran pancing mereka patah ditarik ikan gabus besar.

Lihat selengkapnya