Waktu terus berjalan menempa fisik dan kepribadian Ahmad Sadikin, mengalir layaknya air sungai yang pelan namun pasti membentuk bebatuan di dasarnya. Setelah melewati bulan-bulan penuh penyesuaian dengan kurikulum tingkat atas yang padat dan dinamis, Ahmad kini telah resmi menduduki bangku kelas dua SMA. Postur tubuhnya tumbuh semakin tegap, pembawaannya kian tenang dan dewasa, serta reputasinya di mata para guru sebagai siswa yang berdisiplin tinggi kian dikenal luas di lingkungan sekolah.
Setelah beberapa bulan menjalani dinamika akademis di kelas dua, sebuah kabar yang teramat membanggakan datang menghampiri tepat di awal bulan Juli. Berkat rekam jejak kepemimpinannya yang gemilang sejak masa SMP serta postur tubuhnya yang dinilai ideal dan proporsional, Ahmad bersama beberapa rekan terpilih kembali ditunjuk sebagai petugas Paskibraka. Namun, kali ini tingkatannya jauh lebih tinggi dan bergengsi: mereka naik kelas menjadi petugas Paskibraka di tingkat kabupaten. Ini adalah sebuah tanggung jawab dan kehormatan yang jauh lebih besar. Ahmad dan teman-temannya harus berkemas, meninggalkan kenyamanan rumah papan mereka di desa transmigrasi untuk berangkat menuju ibu kota kabupaten. Mereka akan menetap dan dikarantina di sana di sebuah mess khusus militer sampai seluruh rangkaian tugas upacara suci selesai dilaksanakan.
Selama masa karantina dan pelatihan intensif yang menguras peluh tersebut, semesta pergaulan Ahmad kembali meluas secara drastis. Ia mendapatkan banyak teman baru yang merupakan perwakilan siswa-siswi terbaik, cerdas, dan tangguh dari berbagai pelosok kecamatan lain di kabupaten tersebut. Tak hanya sekadar menambah relasi, Ahmad juga menyerap banyak sekali pengalaman baru yang berharga, mulai dari wawasan kebangsaan yang lebih dalam, arti loyalitas, hingga teknik baris-berbaris yang jauh lebih presisi dan militeristik.