Bulan September yang dinanti-nantikan dengan sejuta harapan akhirnya tiba juga, membawa serta sebuah babak baru yang paling mendebarkan dalam garis hidup Ahmad Sadikin. Pagi itu, atmosfer di bandara terasa begitu magis bagi Ahmad. Bersama rombongan anggota Paskibraka kabupaten lainnya, Ahmad telah berdiri tegap di ruang tunggu dengan jemari yang menggenggam erat selembar tiket penerbangan resmi. Mereka akan segera berangkat menuju Jakarta, bukan lagi dengan jalur laut yang memakan waktu berhari-hari atau jalur darat menembus jalanan rusak, melainkan terbang tinggi membelah langit menggunakan pesawat terbang komersial.
Ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa ganjil, asing, sekaligus menakjubkan bagi nalar Ahmad. Seumur hidupnya, ia hanya bisa menatap takjub burung besi yang melintas sangat kecil di langit biru Riau dari sela-sela rimbunnya pelepah sawit di ladang. Namun kini, garis takdir menempatkan dirinya langsung duduk di dalam kabin penumpang yang sejuk. Saat mesin turbin pesawat mulai menderu kencang hingga menggetarkan dinding kabin dan roda-rodanya mulai meninggalkan landasan pacu, jantung Ahmad berdetak dengan ritme yang sangat cepat. Ia menempelkan wajahnya ke kaca jendela kecil, menatap lanskap daratan Sumatra yang perlahan-lahan mengecil menjadi garis-garis hijau tua, sebelum akhirnya berganti sepenuhnya dengan hamparan samudra awan putih laksana gumpalan kapas raksasa. Perasaan takjub, haru, dan tidak percaya bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Ini adalah pertama kalinya Ahmad naik pesawat, sebuah kemewahan kelas atas yang tak pernah berani ia impikan sedikit pun di masa lalunya.
Setibanya di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, deru udara panas dan hiruk pikuk kesibukan ibu kota langsung menyambut kedatangan mereka dengan gegap gempita. Rombongan remaja berprestasi itu kemudian bergerak menggunakan bus pariwisata menuju asrama tempat mereka menginap yang telah dipersiapkan dengan sangat matang oleh pihak panitia pemerintah kabupaten.
Selesai meletakkan barang bawaan di kamar masing-masing dan melepas lelah sejenak setelah menempuh perjalanan udara, agenda utama mereka langsung dimulai tanpa menunda waktu: melakukan kunjungan wisata sejarah menuju Tugu Monumen Nasional atau yang lebih akrab dikenal sebagai Monas.