Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #19

ESTAFET SUCI DI AMBANG MASA DEPAN

Ketukan berirama pada daun pintu rumah papan bersahaja sore itu seketika disambut dengan sebuah pelukan hangat, erat, dan penuh rindu dari Ibu Ratna. Ahmad Sadikin akhirnya telah kembali menapakkan kakinya di rumah setelah menyelesaikan perjalanan besarnya menuju jantung ibu kota negara. Sambil duduk melingkar di ruang tengah yang akrab dan beralaskan tikar pandan, Ahmad mulai meluapkan segala rasa kekaguman yang sempat membuncah di dalam dadanya selama di Jakarta. Dengan intonasi suara yang bersemangat, ia menceritakan pengalamannya menembus gumpalan awan dengan sayap besi, kemegahan Tugu Monas yang menjulang gagah menantang langit, hingga dinginnya kabut tipis yang menyelimuti Kota Bogor.

Bapak Joko mendengarkan setiap bait runtunan cerita anak bungsunya dengan binar mata yang berkaca-kaca menahan haru. Ada rasa bangga yang luar biasa hebat membuncah di dalam dada sang ayah. Beliau sangat senang melihat Ahmad, darah daging seorang transmigran yang dahulu serba kekurangan, kini memiliki pengalaman hidup yang begitu luar biasa. Sebuah pengalaman mewah yang bahkan belum pernah dirasakan sama sekali oleh kedua orang tuanya sendiri sepanjang hayat dikandung badan.

"Gusti Allah menaikkan derajatmu lewat ketulusan dan kedisiplinanmu, Nak," ujar Bapak Joko dengan suara serak menahan haru, sembari menepuk-nepuk pundak kokoh Ahmad yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda.

Ketika hari Senin kembali tiba dan Ahmad harus kembali ke sekolah, ia tidak datang melangkah dengan tangan kosong. Dari dalam tas sekolahnya, Ahmad mengeluarkan beberapa bungkusan berisi oleh-oleh khas yang ia beli dengan sisa uang saku pemberian pemerintah daerah selama di Jakarta. Ia membagikan buah tangan bersahaja itu kepada teman-teman sekelasnya yang selalu mendukungnya, serta kepada guru wali kelasnya sebagai wujud rasa hormat. Ruang kelas pun mendadak riuh, hangat, dan penuh oleh ucapan terima kasih serta rasa kagum teman-temannya atas kebaikan hati Ahmad yang tidak pernah lupa daratan meski baru saja menginjakkan kaki di kota megah.

Lihat selengkapnya