Langkah kaki Ahmad Sadikin akhirnya membawa dirinya keluar dari batas-batas barisan pohon kelapa sawit yang telah membesarkan masa kecilnya. Setelah resmi menamatkan sekolah di jenjang putih abu-abu, Ahmad mengambil keputusan besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah di sebuah kota yang letaknya sangat jauh dari rumah orang tuanya. Perjalanan menyeberang daerah ini menjadi langkah merantau pertamanya, sebuah pertaruhan hidup yang ia pilih sendiri demi mengubah nasib dan mengangkat derajat keluarga transmigrannya.
Setibanya di kota, Ahmad harus memeras energi fisik dan mentalnya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang bergerak serba cepat, egois, dan dinamis. Namun, prinsip hidup serta fondasi moral yang ditanamkan oleh Pak Joko membuatnya tidak kehilangan arah di tengah gemerlapnya kehidupan kota. Di perantauan, ia menjalani hari-harinya dengan ritme yang sama persis seperti di kampung dulu: teratur, terukur, dan penuh dengan kedisiplinan baja. Ada waktunya ia fokus belajar membedah diktat-diktat kuliah yang tebal, dan ada pula waktunya ia keluar sejenak untuk bermain menyegarkan pikiran bersama teman-teman barunya.
Ahmad memandang kota dengan cara yang sangat sederhana. Baginya, kota tidak jauh berbeda dengan desanya, hanya saja di sini suasananya jauh lebih ramai, bising oleh deru knalpot kendaraan, dan dipenuhi gedung-gedung tinggi yang berdesakan. Ahmad tidak terlalu mengalami *culture shock* atau kaget dengan peradaban kota besar karena ia sedikit banyak sudah paham tentang seluk beluk kehidupan kota berkat pengalamannya sewaktu pergi ke Jakarta bersama rombongan Paskibraka dulu. Mentalnya sudah jauh lebih siap menelan kerasnya atmosfer urban.
Namun, ada satu tantangan terbesar yang harus dihadapi Ahmad secara mandiri di kota: ia harus mampu belajar mengatur keuangannya sendiri secara ketat. Sebagai anak transmigran dengan kiriman uang bulanan yang sangat pas-pasan dari hasil panen sawit, Ahmad harus memutar otak setiap harinya agar uang sakunya cukup untuk membayar sewa kos, membeli buku modul kuliah, dan makan sehari-hari. Ia belajar menahan ego remajanya untuk tidak ikut-ikutan nongkrong di kafe mahal. Ahmad memilih memasak nasi sendiri di dalam kamar kosnya menggunakan *magic com* kecil, dan mencatat setiap pengeluaran sekecil apa pun dengan teliti di sebuah buku saku agar tidak kelaparan di akhir bulan.
Waktu di bangku kuliah rupanya berputar dengan ritme yang jauh lebih cepat daripada masa sekolah. Semester satu dan semester dua berhasil ia lewati dengan catatan nilai indeks prestasi yang sangat baik dan memuaskan. Kedisiplinan lamanya membuat Ahmad mampu mengejar ketertinggalan materi dengan cepat dibandingkan mahasiswa lainnya. Tak terasa, Ahmad kini sudah berada di penghujung semester tiga. Dengan program pendidikan diploma yang diambilnya, gerbang kelulusan kini sudah berada persis di depan mata.