Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #22

MUSHOLA KAYU DI TENGAH MODERNISASI DESA

Semenjak kepulangannya dari dinamika kota yang melelahkan, rutinitas lama Ahmad Sadikin perlahan-lahan mulai kembali pulih di atas tanah transmigrasi. Saat waktu magrib tiba dan sang surya mulai tenggelam di cakrawala, ia kini yang kembali mengambil alih mikrofon untuk mengumandangkan azan di mushola bersahaja itu, persis seperti tugas suci yang pertama kali ia emban di masa ia baru duduk di bangku kelas satu SD dulu.

Namun, ada sebuah getaran yang sepenuhnya berbeda di dalam dadanya malam ini. Suara azannya kini terdengar jauh lebih berat, dalam, dan berwibawa, mencerminkan kedewasaan emosional yang telah ditempa oleh kerasnya kehidupan merantau. Suasana di sekelilingnya pun tak lagi sama seperti belasan tahun yang lalu. Dulu, mushola kayu ini selalu riuh, gaduh, dan hidup oleh gelak tawa teman-teman sebayanya yang saling kejar-kejaran dan berebut posisi di shaf paling depan untuk mengaji bersama.

Kini, setelah belasan tahun roda waktu berputar tanpa ampun, teman-teman masa kecil yang dulu selalu setia menemaninya telah terpencar ke segala penjuru arah mata angin. Garis kehidupan telah menarik mereka ke jalan dan takdir yang berbeda-beda. Di antara mereka, ada yang sudah menikah di usia muda dan sibuk membangun biduk keluarga kecil, ada yang harus pindah mengikuti keluarga ke luar pulau, beberapa ada yang memilih mengadu nasib menjadi pekerja migran di luar negeri, ada pula yang memilih tinggal di rumah neneknya di desa lain, merintis usaha secara mandiri, atau sekadar bekerja sebagai karyawan di tempat orang lain. Deretan anak-anak kecil yang dulu memadati mushola kini telah menjelma menjadi orang-orang dewasa dengan beban, tanggung jawab, dan lipatan kerutan di pundaknya masing-masing.

Melihat realitas sosial tersebut, Ahmad memilih untuk menunda terlebih dahulu keinginan kuatnya untuk segera kembali ke kota besar. Ia mengambil keputusan bijak untuk menetap sementara waktu di desa kelahirannya, menikmati masa jeda rehat spiritual dan fisik sembari membaktikan dirinya membantu pekerjaan harian orang tuanya. Setiap pagi sekali ketika embun masih tebal melekat di dedaunan, Ahmad langsung terjun ke dalam perkebunan kelapa sawit. Dengan memegang galah dodos, ia membantu Bapak Joko merawat pohon-pohon sawit dan memanen tandan buah segar yang selama ini menjadi urat nadi utama penopang ekonomi keluarga mereka.

Lihat selengkapnya