Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #24

GEMURUH KOTA PAHLAWAN DAN SHOLAWAT DI UDARA SUBUH

Setelah dihantam gelombang kegagalan bertubi-tubi dalam dua pekerjaan pertamanya di kota perantauan, mulai dari nilai kejujuran yang dikhianati oleh politik retail hingga pabrik manufaktur yang gulung tikar akibat krisis, Ahmad Sadikin merasa seluruh energi fisik dan mentalnya telah terkuras habis hingga ke titik terendah. Kota perantauan yang berwatak keras, dingin, dan individualis itu sempat menggoyahkan sudut pandang idealismenya sebagai seorang sarjana muda. Mengikuti naluri alamiahnya untuk bertahan hidup, Ahmad kembali mengambil keputusan untuk pulang ke desa kelahirannya di pelosok Riau guna mengistirahatkan pikiran, memulihkan luka batin, dan merajut kembali semangat mudanya yang sempat patah terhempas realitas.

Di kampung halaman tercinta, Ahmad kembali menekuni aktivitas fisiknya yang lama tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Setiap pagi sekali ketika matahari belum sepenuhnya bangun, ia dengan cekatan memakai sepatu bot karet, memanggul galah dodos besi yang berat, lalu berjalan kaki beriringan bersama Pak Joko menuju hamparan hijau kebun kelapa sawit mereka. Bau khas tanah gambut basah yang menyerbak sehabis hujan, hijaunya lambaian pelepah sawit, dan ketenangan absolut atmosfer pedesaan perlahan-lahan menjelma menjadi obat penawar yang mujarab bagi rasa kecewa di hatinya. Mengurus kebun sawit bersama sang ayah tercinta menjadi ruang kontemplasi teologis bagi Ahmad; ia menyadari bahwa rezeki yang digariskan Tuhan tidak akan pernah tertukar, dan setiap kegagalan yang ia telan kemarin hanyalah bagian dari proses penempaan diri agar jiwanya tumbuh sekeras baja.

Waktu terus bergulir dengan tenang, membasuh sisa-sisa trauma kegagalan Ahmad. Dua tahun berselang sejak kepulangannya dari kota perantauan pertama, sebuah rencana besar mendadak mencuat di tengah kehangatan keluarga kecil transmigran itu. Kedua orang tua Ahmad mengajak dirinya untuk melakukan sebuah perjalanan jauh lintas pulau menuju Kota Surabaya, Jawa Timur. Tujuan utama mereka adalah untuk mengunjungi sekaligus menyambung tali silaturahmi dengan sanak saudara dari garis keturunan Jawa mereka yang sudah lama menetap di sana.

Lihat selengkapnya