Waktu berkunjung yang penuh dengan rajutan kenangan manis di Kota Pahlawan akhirnya harus usai juga secara alami. Ahmad Sadikin bersama kedua orang tuanya harus kembali mengemas seluruh barang bawaan mereka ke dalam tas jinjing untuk bertolak pulang. Setelah menghabiskan waktu beberapa hari dalam perjalanan panjang yang melelahkan membelah selat dan pulau menggunakan armada bus umum, Ahmad, Pak Joko, dan Ibu Ratna akhirnya tiba kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun di pelataran rumah papan mereka di pelosok Riau.
Kehidupan harian Ahmad pun seketika kembali berputar pada porosnya yang biasa, akrab, dan bersahaja. Ketika fajar menyingsing dan pagi menjelang, ia akan mengenakan pakaian kerjanya yang lusuh untuk membantu kedua orang tuanya merawat ladang dan memanen buah di perkebunan kelapa sawit. Lalu, ketika senja mulai luruh dan waktu magrib tiba, Ahmad akan melangkah pasti ke mushola kayu samping rumah untuk mengumandangkan azan, menggetarkan langit desa dengan suaranya yang lantang.
Namun, benih kerinduan pada atmosfer spiritual Kota Surabaya yang ia rasakan setahun lalu ternyata tumbuh semakin mengakar kuat dan subur di dalam dadanya. Satu tahun penuh pun berlalu sejak perjalanan lintas pulau itu. Ahmad kembali membulatkan tekad remajanya yang sempat goyah. Ia duduk bersila dengan takzim di hadapan kedua orang tuanya, meminta izin dengan tulus untuk pergi merantau ke Surabaya. Ia ingin mengadu nasib, bertaruh hidup di kota yang telah mencuri hatinya tersebut. Setelah untaian doa dan restu keramat kembali dikantongi dari lisan orang tuanya, Ahmad melangkah pergi dengan tas ransel besar di punggung. Ini adalah tahun pertama ia resmi menjejakkan kaki sebagai seorang perantau mandiri di Kota Surabaya.
Setibanya di Surabaya, Ahmad menumpang sementara waktu di rumah salah seorang saudaranya dan langsung bergerak cepat menyisir peluang pekerjaan. Realitas kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia itu kembali menyambut kedatangannya dengan persaingan yang teramat ketat dan dingin. Setelah menyisir berbagai peluang dari koran dan papan pengumuman, Ahmad akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai penjual kopi keliling di bawah naungan sebuah usaha lokal mikro.