Langkah kaki Ahmad Sadikin kembali menginjak tanah merah basah desanya di pelosok Riau. Setelah hantaman kegagalan yang teramat menyakitkan dan menguras harga diri di Kota Surabaya akibat benturan kendala birokrasi KTP daerah, rumah papan bersahaja di samping kebun sawit serta dekapan hangat penuh keikhlasan dari kedua orang tuanya kembali menjadi tempat terbaik, satu-satunya suaka untuk menyembuhkan luka batin di hatinya. Ahmad pun kembali meleburkan diri ke dalam aktivitas hariannya tanpa pernah mengeluh atau menyalahkan garis takdir. Setiap pagi sekali ketika kabut masih menggantung, ia dengan setia membantu orang tuanya memanen buah kelapa sawit yang berat, dan setiap kali waktu magrib tiba, lengkingan suara azannya yang merdu kembali menggema dari corong pengeras suara mushola kayu.
Kegiatan harian Ahmad dari hari ke hari selalu sama, berjalan datar, repetitif, dan dipenuhi oleh ketenangan semu masyarakat pedesaan. Namun, di dalam sunyinya malam yang melarut, jiwa muda Ahmad yang telah berbekal gelar diploma rupanya masih menyimpan bara rasa penasaran yang belum sepenuhnya padam terhadap takdirnya di Kota Surabaya. Kota itu seolah masih menyisakan sebuah teka-teki kehidupan yang belum selesai ia pecahkan.
Satu tahun lamanya Ahmad menghabiskan waktu untuk menata hati, memulihkan harga diri, dan mengumpulkan serpihan semangat di kampung halaman. Ketika dirasa kondisi mental dan fisiknya telah kembali pulih seratus persen, ia kembali mengambil posisi duduk bersila dengan takzim di hadapan orang tuanya di bawah temaram ruang tengah. Ahmad kembali mengutarakan niatnya untuk meminta izin bertolak kembali menuju Kota Surabaya; ia ingin merantau untuk kedua kalinya demi membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu menaklukkan kerasnya atmosfer kota besar.