Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #27

SIKLUS MALAM, SAKIT, DAN AIR MATA DI JALUR LINTAS SUMATRA

Langkah kaki Ahmad Sadikin kembali membawa tubuhnya yang dirundung lelah luar biasa melintasi daun pintu rumah papan di desanya. Kegagalan kedua di Surabaya mulai dari menjadi buruh pabrik yang eksploitatif hingga terdampar sebagai pemilah rongsokan yang berdebu, sempat menggoreskan luka yang teramat dalam pada harga dirinya sebagai seorang pemuda terdidik. Namun, pelukan bersahaja tanpa penghakiman dari Pak Joko dan Ibu Ratna selalu saja menjadi penawar paling mujarab bagi segala rupa lebam di hatinya.

Ahmad pun kembali tenggelam dalam ritme aktivitas hariannya yang lama; pagi hari memanen kelapa sawit di bawah sengatan matahari kebun, dan sore menjelang magrib ia kembali setia mengumandangkan azan di mushola kayu. Kegiatan Ahmad sama sekali tidak berubah, berjalan presisi seperti tahun-tahun yang lalu. Di mata para tetangga dan warga desa, ia tetaplah sosok pemuda santun berpendidikan yang berbakti setia mendampingi masa tua orang tuanya.

Namun, jauh di dalam rongga dada Ahmad, Kota Surabaya layaknya sebuah magnet magis yang belum selesai menguji keimanan serta keteguhan mentalnya. Satu tahun kembali berlalu dalam keheningan dan kedamaian semu pedesaan. Ketika jiwanya dirasa telah kembali tenang dan stabil, Ahmad lagi-lagi mengambil posisi duduk bersila dengan takzim di hadapan kedua orang tuanya. Ia memohon izin untuk kembali bertolak ke Surabaya, mencoba merajut kembali helai-helai asa yang sempat terputus di aspal metropolitan. Ini adalah tahun ketiga ia mencoba merantau ke Surabaya. Melihat keteguhan hati yang mengeras bak baja pada putra bungsu mereka, Pak Joko dan Ibu Ratna tidak memiliki alasan untuk menahan; mereka kembali melepaskannya dengan untaian doa-doa keramat dan restu yang tulus. Ahmad pun kembali berangkat membelah lautan, menantang ombak menuju Pulau Jawa.

Setibanya di Surabaya untuk ketiga kalinya, garis takdir mempertemukannya dengan sebuah bidang pekerjaan baru. Ahmad resmi diterima bekerja di sebuah pabrik manufaktur pengolahan bumbu masakan instan. Ahmad melambungkan rasa syukur yang tinggi di dalam hati, berharap tempat kerja baru ini menjadi muara akhir dari sebuah pencarian panjangnya yang melelahkan.

Lihat selengkapnya