Setelah kembali menapakkan kakinya di Riau dari perantauan Surabaya dengan membawa sejuta kekecewaan yang menggores batin, roda hidup Ahmad Sadikin seolah kehilangan poros utamanya. Ia memang telah kembali ke desa, kembali ke pelukan rumah papan orang tuanya, dan kembali menjalani aktivitas dari hari ke hari. Namun, kini hari-hari yang dilaluinya terasa berjalan jauh lebih berat, pekat, dan menyesakkan. Beban itu bukan karena adanya tekanan fisik dari luar, melainkan karena rasa hampa yang teramat membosankan dan lambat laun menggerogoti jiwanya. Waktu seolah berputar dalam sebuah lingkaran yang sama, berjalan lambat tanpa ujung yang pasti.
Rutinitas harian Ahmad kini benar-benar terjebak dalam sebuah ritme yang sangat monoton dan melelahkan secara psikologis. Setiap pagi hari, tepat setelah ia bangun dari tidurnya, ia tidak lagi langsung bergegas keluar rumah dengan galah sawit di pundak. Ahmad kini memilih melangkah pelan menuju sudut dapur yang sunyi dan duduk terkurung di depan sebuah meja kayu tua yang catnya mulai mengelupas. Bagi Ahmad, meja makan lapuk ini adalah satu-satunya pelabuhan tempat ia menambatkan pikirannya yang kusut. Ia sengaja duduk diam menghadap ke sana, menatap kosong permukaan kayu dengan khidmat yang getir, seakan-akan meja dapur itu adalah meja belajar tempat ia dahulu menimba ilmu dan memupuk mimpi-mimpi besar masa remajanya. Di sana, ia bisa terdiam dalam posisi yang sama selama berjam-jam, membiarkan pikirannya berkelana jauh ke masa lalu, membedah ulang setiap kegagalannya, dan merenungkan apa yang salah dengan garis hidupnya selama beberapa tahun ini.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam lamunan yang melelahkan, ritual paginya pun dimulai secara mekanis. Ahmad akan sibuk mempersiapkan sepiring nasi hangat yang dicampur dengan suwiran ikan tongkol goreng. Makanan itu bukan dipersiapkan untuk dirinya sendiri, melainkan khusus untuk delapan ekor kucing peliharaannya yang setia mengeong menunggu di sekeliling kaki meja kayu tersebut. Menyuapi delapan ekor kucing itu satu per satu dengan telaten menjadi satu-satunya interaksi sosial harian yang membuatnya merasa masih memiliki fungsi, arti, dan tanggung jawab hidup di dunia ini.