Waktu kini tidak lagi berjalan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan yang dinamis. Rutinitas yang sunyi, hampa, gersang, dan teramat menjemukan di depan meja dapur tua itu tanpa terasa telah bergeser menjadi sebuah agenda tahunan yang mapan dalam garis hidup Ahmad Sadikin. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, Ahmad dipaksa oleh realitas keadaan untuk menelan bulat-bulat lingkaran setan kebosanan tersebut setiap kali ia membuka mata di pagi hari.
Namun, jauh di balik diamnya Ahmad yang terkesan pasrah dan apatis di mata orang awam, sebuah badai besar sedang bergemuruh dengan hebatnya di dalam kepalanya. Di titik ini, keinginan Ahmad dalam hidup sebenarnya sudah sangat menyusut sederhana. Ia kini hanya memiliki dua keinginan terbesar yang mengkristal di dalam benaknya: ia ingin segera pergi sejauh mungkin dari desanya, dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah sudi kembali lagi ke tanah transmigrasi ini.
Pikiran ekstrem yang radikal itu tentu tidak tumbuh begitu saja tanpa adanya pemantik yang kuat. Ahmad sebenarnya sudah merasa sangat tidak nyaman dan terasing tinggal di desanya sendiri. Tempat yang beberapa tahun lalu selalu menjadi pelabuhan teraman serta suaka paling kokoh untuk menyembuhkan luka batin pasca kegagalan merantau, kini perlahan-lahan telah bermutasi menjadi sebuah penjara emosional yang mencekam dan menyesakkan rongga dada.