Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #30

TITIK MATI RASA DI USIA KEPALA TIGA

Niat besar untuk pergi sejauh mungkin dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi dari desa transmigrasi itu ternyata barulah sebatas angan-angan kosong yang menggantung tinggi di atas awan. Kenyataan hidup yang teramat pahit terus-menerus datang menampar wajah Ahmad Sadikin dengan sangat keras tanpa ampun, membangunkannya secara paksa dari mimpi-mimpi indah tentang sebuah pelarian. Langkah kakinya seolah-olah telah dirantai oleh besi tak kasat mata bernama takdir, tepat di atas tanah merah basah yang justru sangat ingin ia tinggalkan dan lupakan.

Ahmad benar-benar tidak paham dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada cetak biru jalan hidupnya sendiri. Mengapa setiap kelok jalannya selalu terasa terjal, berbatu, dan berakhir buntu? Sudah tiga kali berturut-turut ia mengumpulkan sisa-sisa keberanian, harga diri, dan lembaran uang yang menipis untuk pergi merantau ke Surabaya, namun pada akhirnya rantai langkah itu selalu berakhir dengan pola kegagalan yang sama.

Memang, Ahmad mengakui secara jujur di dalam relung hatinya yang paling dalam bahwa niat kuatnya untuk merantau ke Pulau Jawa belakangan ini bukanlah murni sekadar untuk mencari nafkah atau mengejar karier akademis. Perantauan itu adalah sebuah wujud pelampiasan ego terdalam karena ia sudah teramat muak dan ingin pergi sejauh mungkin dari desanya, serta dari tabiat materialistis kedua orang tuanya yang kian hari kian melelahkan jiwa.

Namun, bumi perantauan yang ia cintai pun ternyata menolak kehadirannya secara halus melalui kepelikan birokrasi dan keterbatasan fisik. Kini, setelah semua pintu kesempatan seolah sengaja dikunci rapat-rapat oleh semesta, hari-hari yang dilalui Ahmad benar-benar terasa kosong, sunyi, hambar, dan kelabu. Tidak ada lagi gairah muda yang meletup-letup, tidak ada lagi ambisi mentereng sebagai seorang lulusan diploma.

Lihat selengkapnya