Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #31

FILOSOFI DOMPET KOSONG DAN KEBEBASAN BATIN

Di tengah gulungan hari-hari abu-abu yang menjebak kewarasan batinnya, Ahmad Sadikin sesekali masih dipaksa oleh desakan keadaan untuk menggerakkan raganya yang kaku. Pernah suatu ketika, setelah mengabaikan sejenak rasa khawatir dan trauma mendalam akan penyakit saraf pinggang terjepitnya yang bisa kambuh kapan saja tanpa peringatan, Ahmad nekat mengambil pekerjaan fisik yang sangat berisiko.

Dari cucuran keringat yang menderas dan sisa-sisa tenaga maskulin yang ia paksakan sebagai kuli bangunan selama beberapa minggu, Ahmad akhirnya berhasil mengumpulkan uang tunai sebesar tiga juta rupiah. Ahmad menatap lembaran uang kertas berwarna biru di genggaman tangannya dengan perasaan yang teramat asing. Menariknya, ia justru dirundung rasa bingung yang besar tentang harus diapakan uang sebanyak ini.

Baginya yang kini hidup tanpa letupan ambisi dan tidak lagi memedulikan status sosial di mata publik, uang tiga juta rupiah itu sama sekali tidak memicu keinginan materialistis apa pun di dalam kepalanya. Ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk membeli pakaian baru, tidak berniat menabungnya untuk jaminan masa depan, dan tentu saja enggan memperlihatkannya kepada kedua orang tuanya yang selalu menghitung segala sesuatu berdasarkan nilai nominal materi.

Setelah merenung dalam durasi waktu yang cukup lama di depan meja dapur tua tempatnya biasa bernaung, Ahmad akhirnya mengambil sebuah keputusan yang sangat bulat. Ia membuka aplikasi belanja online di ponsel genggamnya yang retak. Alih-alih membelanjakan uang hasil keringatnya itu untuk keperluan pribadinya di desa, pikiran Ahmad justru terbang jauh menyeberangi lautan luas, tertuju penuh pada ketulusan dan kebaikan sanak saudaranya di Surabaya yang dulu selalu bersedia menampung serta memberinya makan selama ia berulang kali gagal merantau.

Lihat selengkapnya