Meskipun rasa lega yang teramat sangat sempat menyelimuti seluruh rongga hatinya setelah menghabiskan seluruh uang hasil jerih payahnya sebagai kuli bangunan, Ahmad sebenarnya merasa kebingungan yang teramat dalam dengan kondisi psikologisnya sendiri. Ia merenung lama, mencoba membedah dan menguliti isi kepalanya yang kian hari terasa kian asing bagi dirinya sendiri.
Logika manusia pada umumnya tentu akan merasa sayang, menyesal, atau setidaknya merasa ada sesuatu yang hilang setelah menghabiskan uang tiga juta rupiah yang didapat dari hasil memeras keringat secara ekstrem di bawah terik matahari. Namun, Ahmad benar-benar tidak merasakan getaran kehilangan itu sedikit pun. Kosong, hambar, dan datar; itulah spektrum emosi yang Ahmad rasakan mengalir di dalam nadinya.
Sambil duduk diam di dapur menghadap meja kayu tua yang setahun belakangan ini setia menjadi saksi bisu lamunan panjangnya, Ahmad mengeluarkan ponsel dari saku celana. Didorong oleh rasa penasaran yang mendadak membuncah tajam, jemarinya yang gemetar mulai mengetikkan kata demi kata di kolom pencarian internet. Ia berusaha keras mencari tahu informasi ilmiah tentang keadaan mental aneh yang sedang menjerat dirinya selama ini.
Ahmad mencari tahu tentang suatu kondisi spesifik di mana seseorang menjalani hidup yang terasa sangat datar, abu-abu, kehilangan kemampuan alami untuk merasakan kesedihan atau rasa kehilangan, sekaligus sangat sulit untuk meraba kembali apa itu arti dari sebuah kebahagiaan sejati. Ia membaca dengan seksama satu per satu artikel psikologi yang muncul di layar ponselnya, menyusuri baris-baris kalimat yang seolah-olah sedang menceritakan potret buram dirinya sendiri secara presisi.